Stok Beras Hampir 5 Juta Ton, Mentan Amran: Kampus Harus Jadi Motor Inovasi Pertanian

Stok Beras Hampir 5 Juta Ton, Mentan Amran: Kampus Harus Jadi Motor Inovasi Pertanian
Agricom.id

12 April 2026 , 16:12 WIB

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat menghadiri Idul Fitri FunFest 2026 yang digelar Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) di Jakarta, Sabtu (11/4). Foto: Istimewa

 

AGRICOM, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa lonjakan stok beras nasional yang diproyeksikan mendekati 5 juta ton harus dibarengi dengan kontribusi nyata perguruan tinggi dalam mendorong inovasi dan hilirisasi teknologi pertanian.

Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Idul Fitri FunFest 2026 yang digelar Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (IKA ITS) di Jakarta, Sabtu (11/4).

Dalam kesempatan itu, Mentan Amran menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, yang ditopang oleh capaian produksi pangan nasional yang signifikan.

BACA JUGA: Kementan Jaga Harga Kedelai Stabil, Pelaku Usaha Sepakati HAP Rp11.500/Kg

“Sekarang, bulan ini, insya Allah, 5 juta ton beras kita. Ini tidak pernah terjadi selama Indonesia merdeka,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Minggu (12/4).

Ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi beras dalam negeri membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor, bahkan memberikan dampak terhadap pasar global. “Dulu kita impor 7 juta ton beras. Sekarang kita tidak impor. Dampaknya, harga pangan dunia turun,” jelasnya.

Menurut Mentan Amran, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa. “Ini kerja kita semua. Ini kerja bersama. Bukan saya,” tegasnya.

BACA JUGA: PTPN IV PalmCo Siap Uji Coba Serangga Penyerbuk Tanzania untuk Dongkrak Produktivitas Sawit

Namun demikian, Mentan Amran mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga pada pemanfaatan inovasi yang melibatkan kampus secara nyata, bukan sekadar seremoni. “Kampus harus hadir dengan aksi nyata, bukan seremoni,” ungkapnya.

Ia menilai, selama ini kekuatan riset di kampus sudah sangat baik, tetapi masih lemah pada aspek hilirisasi dan pemasaran inovasi. “Kelemahan kita di kampus adalah tidak mampu mengkomunikasikan apa yang kita ciptakan dan harus melihat pasar,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong ITS untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadirkan teknologi yang benar-benar digunakan oleh masyarakat, termasuk alat mesin pertanian, kendaraan listrik, dan berbagai inovasi berbasis kebutuhan lapangan.

BACA JUGA: RI Perkuat Ekspor Rempah ke Eropa, Bidik Kemitraan Strategis dan Nilai Tambah

“Kita ingin ke depan, yang mensuplai, traktor, alat pertanian, itu dari ITS. Pasti bisa,” tegasnya.

Sebagai contoh konkret, ia menyinggung pengembangan alat mesin pertanian ITS berupa traktor perahu yang perlu terus disempurnakan dan diproduksi secara massal.

“Traktor, apa namanya itu? Oh ini sudah jadi ya? Nah ini traktor perahu. Sudah, diperbaiki terus, rekayasa kita adakan,” ungkapnya.

Mentan Amran bahkan menekankan bahwa pemerintah siap mendukung dan menyerap inovasi dalam negeri, selama kampus berani memproduksi dalam skala besar dan bertanggung jawab atas kualitasnya. “Kami ingin ITS terdepan. Bisa ya?” jelasnya.

BACA JUGA: Serangga Penyerbuk Baru Dilepas, Babak Baru Produktivitas Sawit Dimulai

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas institusi dalam membangun kemandirian nasional.

“Kita sama-sama, gandengan tangan. Enggak ada istilah Unhas, IPB, ITS. kita harus kolaborasi, demi Merah Putih,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Mentan Amran mengajak seluruh kampus dan alumni untuk bergerak bersama dalam hilirisasi berbasis kebutuhan nasional.

BACA JUGA: Uji B50 di Sektor Tambang Tunjukkan Hasil Positif, Langkah Indonesia Menuju Energi Mandiri

“Ayo kita bergerak di hilirisasi, meneliti sesuai kebutuhan negara,” pungkasnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP