Kolaborasi petani dan pemerintah diperkuat melalui adopsi teknologi, pengembangan lahan, dan peningkatan benih unggul untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Foto: Istimewa
AGRICOM, JAKARTA — Kontak Tani Nelayan Andalan Nasional (KTNA) menegaskan komitmennya dalam mendukung program swasembada pangan nasional dengan mendorong peningkatan produksi berbasis inovasi dan teknologi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan perubahan iklim, termasuk fenomena El Nino.
Ketua KTNA, Mohammad Yadi Sofyan Noor, menyampaikan bahwa capaian swasembada pangan merupakan hasil kerja kolektif yang melibatkan petani di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa konsistensi di lapangan menjadi kunci utama dalam mempertahankan bahkan meningkatkan produksi.
BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Dorong Hilirisasi Sawit Rakyat Berbasis Koperasi
“Kalau bicara swasembada, kita all out. Kita bangga karena capaian tahun lalu itu luar biasa, bahkan terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa kita tidak kendur. Dalam kondisi El Nino sekalipun, teman-teman di lapangan tetap bergerak, bahkan ada yang swadaya membangun infrastruktur air hingga ratusan juta rupiah demi menjaga produksi,” terangnya di Kantor Pusat, Kementerian Pertanian pada Selasa (21/4/2026).
Ia menambahkan, sinergi antara KTNA dan Kementerian Pertanian terus berjalan intensif, salah satunya terkait kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan) untuk menjaga produktivitas di daerah terdampak kekeringan.
BACA JUGA: Daerah Perkuat Peran dalam Ketahanan Pangan dan Energi, Program Kementan Tuai Apresiasi
“Kami terus melaporkan ke Pak Menteri. Apa yang terjadi di lapangan, termasuk kebutuhan mesin untuk daerah seperti Jombang dan sekitarnya. Respons pemerintah sangat cepat, dan ini membuat kami optimistis swasembada pangan tetap aman,” tambahnya, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Rabu (22/4).
Senada dengan itu, Wakil Sekretaris Jenderal KTNA, Zulharman Djusman, menegaskan kesiapan petani dalam menjaga keberlanjutan swasembada melalui penguatan lahan dan pemanfaatan alsintan.
BACA JUGA: Australia Lirik Impor Urea dari Indonesia, Kementan Prioritaskan Kebutuhan Domestik
“Alhamdulillah untuk tahun-tahun ke depan kita sudah mempersiapkan pengembangan lahan baru secara konsisten dan terus kita tingkatkan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan sektor perbenihan menjadi fokus penting ke depan.
“Kami juga terus berkontribusi dalam pengembangan benih-benih unggul untuk petani di seluruh Indonesia. Insya Allah swasembada pangan ini akan berkelanjutan dan kita siap menjadi negara yang kuat dalam sektor pangan,” lanjutnya.
BACA JUGA: Setelah Australia, India Minati Impor Pupuk Indonesia di Tengah Surplus Nasional
Kondisi stok nasional saat ini semakin kuat dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang telah mencapai 4,9 juta ton dan terus bergerak menuju 5 juta ton. Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan tren kinerja produksi yang positif, di mana produksi beras nasional pada 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyambut baik dukungan KTNA tersebut dan menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian merupakan hasil kerja bersama seluruh pihak, khususnya petani sebagai ujung tombak produksi.
BACA JUGA: Mentan Amran: Program B50 Tak Ganggu Pasokan dan Harga Minyak Goreng
“Keberhasilan yang kita capai hari ini bukan karena satu orang, tetapi karena kerja keras kita semua,” ujarnya.
Sebagai bagian dari penguatan kolaborasi dan percepatan adopsi teknologi di tingkat petani, Kementerian Pertanian bersama KTNA akan menggelar Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan pada 20–26 Juni 2026 di Gorontalo.
Mentan Amran menegaskan bahwa PENAS harus menjadi ajang strategis yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan kapasitas petani.
BACA JUGA: Percepatan B50 dan E20 Dikebut, Kementan dan BUMN Genjot Kemandirian Energi Nasional
“PENAS ini bukan sekadar ajang berkumpul, tapi harus menjadi panggung untuk menunjukkan hasil karya terbaik anak bangsa di sektor pertanian. Kita ingin petani melihat langsung teknologi, inovasi, dan alat mesin pertanian buatan dalam negeri yang bisa meningkatkan produktivitas. Ini bagian dari transformasi menuju pertanian modern dan mandiri,” tegasnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, akan digelar Gelar Teknologi (Geltek) yang menampilkan berbagai inovasi pertanian terbaru, mulai dari penggunaan drone, mesin tanam dan panen, hingga penerapan pola tanam modern seperti sistem Arkansas.
KTNA menyatakan kesiapan penuh dalam penyelenggaraan PENAS tersebut, termasuk pelaksanaan demonstrasi teknologi di lapangan yang saat ini telah memasuki fase pertumbuhan tanaman sebagai bagian dari penerapan inovasi secara langsung.
Dengan dukungan aktif KTNA sebagai representasi petani di lapangan, serta penguatan inovasi teknologi oleh pemerintah, Indonesia optimistis mampu mempertahankan bahkan meningkatkan capaian swasembada pangan secara berkelanjutan di tengah tantangan global. (A3)