Peningkatan lalu lintas ternak menjelang Iduladha mendorong Kementerian Pertanian memperkuat pengawasan kesehatan hewan dan edukasi keamanan pangan guna mencegah penyebaran penyakit zoonosis. Foto: Agricom.id
AGRICOM, JAKARTA – Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Kementerian Pertanian (Kementan) memperketat pengawasan terhadap penyakit zoonosis dan keamanan pangan asal hewan di tengah meningkatnya mobilitas serta distribusi ternak antarwilayah.
Langkah tersebut dilakukan melalui pengawasan kesehatan hewan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) peternakan, hingga edukasi kepada masyarakat dan panitia kurban terkait penanganan daging yang aman dan higienis.
BACA JUGA: Dialog Bersama 118 BEM, Mentan Amran Paparkan Transformasi Besar Pertanian Nasional
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengawasan kesehatan hewan menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pangan nasional, khususnya saat aktivitas perdagangan ternak meningkat menjelang Iduladha.
Menurut Amran, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga kualitas dan jaminan keamanan pangan yang dihasilkan.
“Ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh produksi, tetapi juga kualitas dan jaminan keamanan produk pangan yang dihasilkan. SDM pertanian dan peternakan harus profesional, kompeten, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang aman, sehat, utuh, dan halal,” ujar Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Selasa (12/5).
BACA JUGA: Kementan dan Pemda Perkuat Mitigasi Kekeringan, Pastikan Pertanaman Padi Gunungkidul Tetap Produktif
Mentan Amran menambahkan, meningkatnya distribusi hewan ternak antarwilayah harus diantisipasi dengan pengawasan kesehatan hewan yang ketat agar tidak menjadi jalur penyebaran penyakit zoonosis maupun penyakit hewan menular strategis.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Idha Widi Arsanti, mengatakan bahwa penguatan kompetensi SDM menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem pencegahan penyakit hewan di lapangan, terutama pada momentum tingginya aktivitas perdagangan dan pemotongan ternak menjelang Iduladha.
“Penguatan SDM menjadi fondasi utama pembangunan pertanian. Melalui sertifikasi, pelatihan, dan resertifikasi kompetensi, kita memastikan tenaga profesional di lapangan memiliki kemampuan yang terukur, adaptif, dan mampu memberikan edukasi serta pelayanan terbaik kepada masyarakat,” kata Santi (7/5/2026)
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Senin (11/5) Menguat ke Rp15.325/Kg, Bursa Malaysia Rebound Usai Tiga Hari Melemah
Sebagai bagian dari penguatan mitigasi zoonosis, Kementan melalui Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu meningkatkan edukasi nasional terkait penanganan daging dan pengawasan kesehatan hewan melalui berbagai program pelatihan bagi peternak, penyuluh, petugas lapangan, dan masyarakat.
Materi pelatihan mencakup pemeriksaan kesehatan hewan sebelum pemotongan, pemeriksaan organ dan karkas, penerapan sanitasi dan higiene, hingga tata cara distribusi daging yang memenuhi prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH). Langkah tersebut penting untuk memastikan daging yang dikonsumsi masyarakat tetap aman serta meminimalkan risiko penularan penyakit.
Kepala Pusat Pelatihan Pertanian BPPSDMP, Tedy Dirhamsyah, menjelaskan bahwa pengawasan kesehatan hewan harus dilakukan secara menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir, terutama saat permintaan dan distribusi ternak meningkat menjelang Iduladha.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Senin (11/5) Turun Rp265, Tertinggi Rp38.189 Per Kg
“Pencegahan zoonosis harus dimulai sejak sebelum penyembelihan melalui pemeriksaan kesehatan hewan, pengawasan lalu lintas ternak, hingga edukasi kepada masyarakat mengenai cara penanganan daging yang benar. Ini penting agar distribusi daging kurban tidak menjadi media penularan penyakit,” ujarnya.
Kementan mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai berbagai penyakit zoonosis seperti Anthrax, Brucellosis, Lumpy Skin Disease (LSD), Foot-and-Mouth Disease (PMK), jembrana, dan infeksi cacing hati. Penyakit tersebut dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan sakit, darah, organ terinfeksi, maupun pangan asal hewan yang tidak ditangani secara tepat.
Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, penyebaran zoonosis juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi akibat turunnya produktivitas ternak, terganggunya distribusi hewan, hingga menurunnya kepercayaan konsumen terhadap produk peternakan. (A3)