Kemenperin Perkuat Hilirisasi Buah Tropis, IKM Didorong Tembus Pasar Ekspor

Kemenperin Perkuat Hilirisasi Buah Tropis, IKM Didorong Tembus Pasar Ekspor
Agricom.id

17 May 2026 , 17:29 WIB

Dok. Kemenperin/ Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, industri olahan buah memiliki prospek yang sangat menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat serta berkembangnya tren produk berbasis natural food.

 

AGRICOM, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat program hilirisasi industri nasional dengan melibatkan industri kecil dan menengah (IKM) sebagai bagian penting dalam pengembangan produk bernilai tambah. Salah satu sektor yang kini menjadi fokus penguatan adalah industri pangan berbasis buah tropis khas Indonesia.

Langkah tersebut dinilai strategis mengingat Indonesia memiliki kekayaan komoditas buah tropis yang melimpah dan berpotensi besar dikembangkan menjadi berbagai produk olahan modern yang memiliki daya saing tinggi di pasar global.

BACA JUGA: Kemenperin Perkuat Sentra Kerajinan Bambu untuk Dorong Industri Hijau dan Ekonomi Daerah

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, selama ini Indonesia masih banyak mengekspor buah segar, padahal peluang pengembangan produk olahan bernilai tambah jauh lebih besar dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas.

“Indonesia memiliki banyak sekali jenis buah khas negara tropis yang punya nilai jual tinggi di pasar dalam dan luar negeri. Ini saatnya lebih banyak pelaku industri, khususnya IKM di berbagai sentra penghasil buah, untuk mengambil peran dalam mengolah buah unggulan menjadi produk pangan yang lebih beragam, bernilai tambah, dan disukai pasar,” ujar Menperin di Jakarta, Senin (11/5).

Menurut Agus, berbagai komoditas unggulan seperti pisang, durian, mangga, jeruk, nanas, hingga manggis memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi aneka produk olahan pangan, mulai dari makanan ringan, jus, selai, buah kering, hingga bahan baku industri kosmetik dan kesehatan.

BACA JUGA: Kementan dan TNI AL Genjot Produksi Kedelai, Nganjuk Disiapkan Jadi Percontohan Nasional

“Sudah saatnya kita tidak hanya mengekspor buah segar, tetapi juga menikmati nilai tambah dari produk olahan buah tropis khas Indonesia. Pengembangan industri pengolahan buah akan memberikan manfaat yang lebih luas, baik bagi petani maupun pelaku industri pengolahan pangan,” kata Agus, dikutip Agricom.id dari laman Kemenperin, Minggu (17/5).

Ia menambahkan, penguatan hilirisasi industri buah tropis juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan kontribusi sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional.

Berdasarkan data dalam Buku Statistik Hortikultura 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pisang nasional pada tahun 2024 mencapai 9,26 juta ton. Provinsi dengan produksi pisang terbesar antara lain Jawa Timur, Lampung, dan Jawa Barat. Nilai ekspor pisang segar Indonesia pada 2024 tercatat mencapai US$10,52 juta atau meningkat 10,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$9,5 juta. Volume ekspornya juga meningkat dari 24,8 ribu ton pada 2023 menjadi 26,24 ribu ton pada 2024, dengan negara tujuan utama ekspor meliputi Malaysia, Jepang, dan Singapura.

BACA JUGA: Mendag Budi Santoso Ajak UMKM Naik Kelas Lewat Forum “NGOPI”

Sementara itu, produksi mangga nasional mencapai 3,3 juta ton pada tahun 2024, dengan nilai ekspor buah mangga segar dan olahan mencapai US$1,75 juta. Negara tujuan ekspor utama produk mangga Indonesia antara lain Singapura, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Adapun produksi nanas nasional mencapai 2,74 juta ton dengan nilai ekspor buah nanas segar dan olahan mencapai US$316,1 juta. Produk nanas Indonesia banyak diekspor ke Amerika Serikat, Tiongkok, dan Belanda.

Dalam rangka meningkatkan peran IKM pangan pada program hilirisasi industri, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) terus menjalankan berbagai program pembinaan dan pendampingan bagi pelaku IKM olahan pangan berbasis buah tropis.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita mengatakan, industri olahan buah memiliki prospek yang sangat menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat serta berkembangnya tren produk berbasis natural food.

BACA JUGA: Ekspor Pupuk ke Australia, Mentan Amran: PM Australia Ucapkan Terima Kasih ke Presiden Prabowo

“Industri olahan buah ini punya prospek yang bagus di tengah isu ketahanan pangan dan semakin besarnya kesadaran masyarakat terhadap olahan pangan sehat,” ujar Reni di Jakarta, Selasa (5/5).

Reni menjelaskan, IKM pangan selama ini memberikan kontribusi besar terhadap struktur industri nasional. Dari total 4.445.070 unit usaha industri di Indonesia, sebanyak 4.435.542 unit merupakan IKM dan sekitar 46,63 persen di antaranya bergerak di sektor pangan.

Menurutnya, Ditjen IKMA terus melakukan berbagai program pendampingan bagi IKM olahan buah, mulai dari peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, penguatan kualitas kemasan, peningkatan standar keamanan pangan internasional, hingga perluasan akses pasar melalui pameran dan temu bisnis.

BACA JUGA: Ekspor Pupuk Indonesia ke Australia Capai Rp7 Triliun, Harga Pupuk Subsidi Turun 20 Persen

“Maka itu, Ditjen IKMA terus melakukan pendampingan bagi IKM yang memanfaatkan bahan baku buah tropis ini dalam hal peningkatan teknologi dan kapasitas produksi, peningkatan kualitas kemasan produk, peningkatan keamanan pangan berstandar internasional, peningkatan nilai tambah komoditas, dan peningkatan akses pasar melalui pameran dan temu bisnis,” jelasnya.

Meski demikian, Reni mengakui bahwa hilirisasi industri buah tropis masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari stabilitas pasokan bahan baku, keterbatasan teknologi pengolahan, hingga aspek branding dan pemasaran produk.

“Peluang pasar terbuka lebar, oleh sebab itu Kemenperin terus mendampingi IKM olahan buah agar bisa memenuhi standar jumlah dan kualitas pasokan, memiliki sertifikasi HACCP, dan mampu berinovasi dengan teknologi yang lebih modern agar produknya mampu bersaing di pasar domestik maupun global,” ungkapnya.

BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Direktur IKM Pangan, Furnitur dan Bahan Bangunan, Afrizal Haris menambahkan, salah satu tantangan yang dihadapi IKM olahan buah adalah menjaga kualitas bahan baku selama proses distribusi dan logistik. Namun demikian, tantangan tersebut dapat diatasi melalui pemanfaatan teknologi pengolahan dan penyimpanan modern.

“Kita juga terus mendorong diversifikasi produk agar IKM mampu menghasilkan berbagai produk turunan seperti buah kaleng, selai, buah kering, hingga bahan campuran untuk industri kosmetik,” kata Afrizal.

Selain pembinaan teknis, Ditjen IKMA juga terus mendorong pelaku IKM memanfaatkan fasilitas pembiayaan melalui Kredit Industri Padat Karya (KIPK). Salah satu IKM binaan yang telah memanfaatkan program tersebut adalah CV Sahabat Pangan yang memperoleh pembiayaan sebesar Rp2 miliar untuk revitalisasi rumah produksi serta penambahan mesin vacuum frying dan smart cold storage.

“Dengan revitalisasi rumah produksi dan pengadaan mesin baru tersebut, IKM tentunya menjadi lebih percaya diri dan siap memenuhi permintaan pasar ekspor,” tutup Afrizal. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP