AGRICOM, JAKARTA – Perdagangan kontrak berjangka minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives bergerak cenderung stagnan pada Senin (15/6/2026), setelah sempat mengalami tekanan pada awal sesi perdagangan akibat melemahnya harga minyak mentah dunia dan penurunan harga minyak nabati di pasar global.
Berdasarkan laporan Reuters, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus 2026 bertahan di level RM4.475 per ton saat jeda perdagangan siang. Sebelumnya, kontrak tersebut sempat turun hingga RM4.438 per ton sebelum berhasil memangkas sebagian kerugiannya.
Sentimen negatif juga tercermin di pasar domestik Indonesia. Pada perdagangan Senin (15/6/2026), harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) mengalami withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi tercatat sebesar Rp14.999 per kilogram.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Turun hingga RM90, KPBN Naik 0,32%
Dengan posisi tersebut, harga CPO KPBN turun Rp451/kg atau sekitar 2,92 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya pada Jumat (12/6/2026) yang mencapai Rp15.450/kg.
Tekanan terhadap pasar sawit turut datang dari bursa komoditas Tiongkok. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat melemah 0,44 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun lebih dalam sebesar 1,51 persen. Di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga terkoreksi 0,97 persen.
Pelemahan harga minyak nabati pesaing tersebut menambah tekanan bagi pasar sawit global karena ketiga komoditas tersebut saling bersaing dalam memenuhi kebutuhan industri pangan maupun energi.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (12/6) Naik Tipis ke Rp15.450/Kg
Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia turut menjadi faktor utama yang membebani pasar. Harga minyak bergerak ke level terendah sejak Maret setelah muncul sinyal meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengenai adanya kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz meningkatkan ekspektasi pasokan energi global yang lebih stabil, sehingga menekan harga minyak mentah.
Bagi industri sawit, melemahnya harga minyak mentah berpotensi mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi ini dapat memengaruhi permintaan dari sektor energi yang selama ini menjadi salah satu penopang konsumsi minyak sawit global.
BACA JUGA: Harga Karet SGX Menguat Tipis di Awal Pekan, Masih Bertahan di Atas Rp40 Ribu per Kg
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pasar juga mencermati kebijakan ekspor Malaysia. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) menetapkan harga referensi CPO untuk Juli 2026 pada level yang tetap mempertahankan bea keluar ekspor sebesar 10 persen.
Pelaku pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut terkait permintaan dari negara-negara importir utama, pergerakan harga minyak nabati pesaing, serta dinamika pasar energi global untuk menentukan arah harga CPO dalam beberapa hari ke depan. Pelemahan harga minyak mentah dan koreksi di pasar minyak nabati diperkirakan masih akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi sentimen perdagangan sawit global dalam jangka pendek. (A3)