Tender CPO KPBN Senin (15/6) Berakhir WD, Harga Turun ke Rp14.999/Kg


AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik Indonesia mengalami koreksi pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (15/6/2026), tender CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) berakhir dengan status withdraw (WD) setelah penawaran tertinggi tidak memenuhi ekspektasi penjual.

Berdasarkan data yang diperoleh Agricom.id, harga penawaran tertinggi CPO KPBN tercatat sebesar Rp14.999/kg. Angka tersebut turun Rp451/kg atau sekitar 2,92 persen dibandingkan harga pada perdagangan Jumat (12/6/2026) yang mencapai Rp15.450/kg.

Di Pelabuhan Dumai, harga CPO Franco dibuka pada level Rp15.450/kg. Namun, proses tender berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi hanya mencapai Rp14.999/kg. Kondisi serupa terjadi di Teluk Bayur, di mana harga pembukaan sebesar Rp15.320/kg tidak berhasil tercapai dan penawaran tertinggi berhenti di Rp14.847/kg.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (12/6) Naik Tipis ke Rp15.450/Kg

Sementara itu, untuk CPO FOB Talang Duku, harga pembukaan ditetapkan Rp15.250/kg. Namun tender juga ditarik setelah penawaran tertinggi hanya mencapai Rp14.777/kg.

Penurunan harga di pasar domestik terjadi sejalan dengan pergerakan pasar internasional yang cenderung melemah. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka CPO acuan untuk pengiriman Agustus 2026 bergerak relatif datar setelah sempat tertekan pada awal perdagangan.

Menurut laporan Reuters, harga kontrak CPO Malaysia bertahan di level RM4.475 per ton saat jeda perdagangan siang. Sebelumnya, kontrak tersebut sempat turun hingga RM4.438 per ton sebelum kembali pulih dan memangkas sebagian kerugiannya.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Bertahan di RM4.475/Ton di Tengah Tekanan Minyak Mentah dan Minyak Nabati Global

Tekanan terhadap pasar sawit global datang dari pelemahan harga minyak nabati pesaing. Di Bursa Dalian, Tiongkok, kontrak minyak kedelai paling aktif turun 0,44 persen, sedangkan kontrak minyak sawit melemah 1,51 persen. Di pasar Amerika Serikat, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga terkoreksi 0,97 persen.

Koreksi harga minyak nabati tersebut mempersempit ruang penguatan CPO karena komoditas-komoditas tersebut bersaing dalam memenuhi kebutuhan industri pangan dan energi dunia.

Sentimen negatif lainnya berasal dari pasar energi global. Harga minyak mentah dunia turun ke level terendah sejak Maret setelah muncul indikasi meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pejabat Iran mengenai kemungkinan kesepakatan untuk mengakhiri konflik serta pembukaan kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz memicu ekspektasi pasokan energi yang lebih stabil.

BACA JUGA: BRICS Perluas Akses Teknologi dan Investasi untuk Percepat Transformasi Pertanian Indonesia

Bagi industri sawit, penurunan harga minyak mentah dapat mengurangi daya saing biodiesel berbasis CPO dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga berpotensi menekan permintaan dari sektor energi.

Di tengah berbagai tekanan tersebut, pasar juga mencermati kebijakan ekspor Malaysia. Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) mempertahankan harga referensi CPO Juli 2026 pada level yang tetap dikenakan bea keluar ekspor sebesar 10 persen.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan permintaan dari negara-negara importir utama serta arah pergerakan harga minyak nabati dan energi global. Faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama pergerakan harga CPO dalam beberapa hari mendatang. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP