Harga CPO Malaysia Tembus Level Tertinggi 15 Pekan, Didorong Reli Energi dan B50 Indonesia


AGRICOM, JAKARTA – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat dan mencapai level tertinggi dalam 15 pekan pada perdagangan Jumat (24/7/2026). Kenaikan dipicu oleh penguatan harga energi global, reli minyak nabati di Bursa Dalian, serta ekspektasi berkurangnya pasokan ekspor Indonesia setelah implementasi mandatori biodiesel B50.

Mengutip Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Oktober 2026 di Bursa Malaysia naik RM41 per ton atau sekitar 0,87% menjadi RM4.751 per ton pada perdagangan tengah hari. Secara mingguan, kontrak tersebut mencatat kenaikan sekitar 3,35%, sekaligus memperpanjang tren penguatan selama tiga pekan berturut-turut.

Sentimen positif juga datang dari pasar energi. Kenaikan harga minyak mentah meningkatkan daya saing biodiesel berbasis minyak sawit dibandingkan bahan bakar fosil, sehingga memperkuat prospek permintaan CPO di pasar global.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Rebound Didukung Penguatan Minyak Nabati Global

Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange menguat 0,88%, sementara kontrak minyak sawit naik lebih tinggi sebesar 1,33%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi tipis sekitar 0,23%, namun belum mampu mengubah sentimen positif di pasar minyak sawit.

Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga CPO pada tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) ditutup withdraw dengan penawaran tertinggi sebesar Rp15.768/kg pada Jumat (24/7/2026). Harga tersebut turun Rp32/kg atau sekitar 0,20% dibandingkan perdagangan Kamis (23/7/2026) yang mencapai Rp15.800/kg.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik 1,86% ke Rp15.800/Kg, Bursa Malaysia Rebound

Meski harga CPO di tender KPBN mengalami koreksi tipis, pergerakan pasar internasional masih menunjukkan optimisme. Pelaku pasar menilai kebijakan mandatori B50 di Indonesia berpotensi meningkatkan konsumsi domestik minyak sawit untuk biodiesel, sehingga mengurangi volume ekspor dan memperketat pasokan di pasar global.

Kombinasi penguatan harga energi, kenaikan minyak nabati pesaing di Asia, serta prospek pasokan yang lebih ketat diperkirakan akan terus menjadi faktor utama yang menopang harga CPO dalam jangka pendek. Namun, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan produksi di negara produsen utama serta dinamika permintaan dari India dan China yang menjadi konsumen terbesar minyak sawit dunia. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP