AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Rabu (29/7/2026). Berdasarkan hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom, harga CPO Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp15.800/kg, naik Rp12/kg atau sekitar 0,08% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level Rp15.788/kg.
Kenaikan terbatas tersebut menunjukkan pasar masih bergerak stabil di tengah dinamika perdagangan, meskipun sebagian besar tender di sejumlah lokasi kembali berakhir withdraw (WD) akibat penawaran yang belum memenuhi harga yang diharapkan penjual.
Mengacu pada hasil tender KPBN Inacom, Franco Dumai menjadi satu-satunya transaksi yang berhasil ditetapkan pada level Rp15.800/kg. Sementara itu, tender FOB Talang Duku dibuka di harga Rp15.600/kg, namun ditarik (WD) setelah penawaran tertinggi hanya mencapai Rp15.367/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (28/7) Naik ke Rp15.788 per Kg
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa titik lainnya. Tender Franco Teluk Bayur dibuka pada Rp15.670/kg dengan penawaran tertinggi Rp15.437/kg, sedangkan FOB Palembang dibuka di Rp15.650/kg dan menerima penawaran tertinggi Rp15.417/kg sebelum akhirnya berstatus withdraw.
Sedangkan di Loco Parindu & Ngabang dibuka pada Rp15.450/kg dengan penawaran tertinggi Rp15.216/kg, sementara Loco Kembayan dibuka Rp15.350/kg dengan penawaran tertinggi Rp15.116/kg. Keduanya juga berakhir tanpa transaksi.
BACA JUGA: Bursa Malaysia Tertekan Dua Hari Beruntun, Harga CPO Turun ke RM4.646 per Ton
Untuk komoditas Crude Palm Kernel Oil (CPKO), harga Franco Dumai ditetapkan sebesar Rp33.825/kg. Sementara tender FOB Lampung dibuka di Rp34.559/kg namun berstatus withdraw setelah penawaran tertinggi mencapai Rp31.600/kg. Adapun FOB Palembang dibuka di Rp33.389/kg dengan penawaran tertinggi Rp33.125/kg, yang juga berakhir withdraw.
Secara keseluruhan, perdagangan hari ini menunjukkan harga acuan CPO domestik masih mampu bertahan di kisaran Rp15.800/kg, meskipun aktivitas transaksi tetap terbatas akibat masih lebarnya selisih antara harga pembukaan dan penawaran dari pelaku pasar. Kondisi tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku industri dalam merespons dinamika pasar minyak nabati global serta faktor permintaan dan pasokan yang masih berkembang. (A3)