AGRICOM, JAKARTA — Industri pengolahan kakao Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan pada triwulan II 2026, memperkuat daya saing nasional di tengah volatilitas harga kakao global, perubahan pola permintaan, dan meningkatnya tuntutan terhadap praktik produksi berkelanjutan.
Berdasarkan Grind Statistics Q2 2026, volume pengolahan (grinding) kakao nasional mencapai 110.410 ton, meningkat 30,1% dibandingkan triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 84.844 ton. Sejalan dengan itu, produksi kakao olahan juga tumbuh 8,2% secara kuartalan, mencerminkan meningkatnya kapasitas dan efisiensi industri hilir kakao nasional.
Kinerja tersebut semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengolahan kakao terbesar di dunia sekaligus mitra strategis dalam rantai pasok kakao global.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Agustus Melonjak 36,66%, HPE Tembus USD 5.064/MT
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan pemerintah akan terus memperkuat daya saing industri pengolahan kakao melalui strategi hilirisasi guna menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat grinding kakao berskala global.
"Kementerian Perindustrian terus mempercepat transformasi industri kakao melalui penguatan hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan kemitraan antara petani dan industri, penerapan standar mutu, serta percepatan implementasi prinsip keberlanjutan," ujar Agus dalam keterangan, ditulis Agricom, Kamis (5/8).
Dengan kapasitas pengolahan yang terus berkembang, Indonesia kini menyumbang sekitar 49% dari total volume industri pengolahan kakao di kawasan Asia. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu pilar utama industri kakao regional sekaligus memperkuat peran Asia dalam perdagangan produk kakao olahan di pasar internasional.
BACA JUGA: BPDP Pacu UMKM Sawit, Kakao, dan Kelapa Naik Kelas Lewat Hilirisasi
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, mengatakan penyelenggaraan Indonesia International Cocoa Conference 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya dalam meningkatkan produktivitas, mempercepat transformasi industri, memperluas akses pasar, serta mendorong sistem produksi kakao yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Mengusung tema "The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World," konferensi tersebut menegaskan komitmen Indonesia untuk tidak hanya menjadi produsen kakao, tetapi juga pusat industri pengolahan kakao berkelas dunia yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, memenuhi standar keberlanjutan internasional, serta memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani, industri, dan perekonomian nasional. (A3)