Dok. Tangkapan layar/Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah (kanan), dan Founder Minang Kakao, Afdhal Aliasar.
AGRICOM, JAKARTA – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas perkebunan melalui inovasi, hilirisasi, serta kolaborasi lintas sektor. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak produk bernilai tambah dari sawit, kakao, dan kelapa yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dari komoditas perkebunan yang selama ini masih didominasi penjualan bahan baku. Melalui hilirisasi, komoditas tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk inovatif yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi petani dan pelaku UMKM.
"Kami ingin petani tidak hanya menjual bahan baku, tetapi mampu menciptakan produk bernilai tambah melalui UMKM berbasis sawit, kakao, dan kelapa," ujar Helmi, dikutip Agricom.id dari podcast BPDP, Senin (27/7).
BACA JUGA: PERISAI 2026 Jadi Panggung Inovasi, BPDP Perkuat Ekosistem Inovasi Sawit Berkelanjutan
Menurut Helmi, BPDP mendorong komersialisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan oleh UMKM. Salah satu contohnya adalah inovasi pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi helm, yang menunjukkan bahwa limbah perkebunan pun dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Ia menambahkan, konsep UMKM naik kelas tidak hanya diukur dari peningkatan omzet atau aset, tetapi juga dari kemampuan membangun tata kelola usaha yang lebih baik sekaligus menjadi bagian dalam mengampanyekan manfaat komoditas perkebunan Indonesia, khususnya kelapa sawit.
Sebagai bentuk dukungan, BPDP menyelenggarakan berbagai workshop teknis bersama perguruan tinggi dan para ahli, membuka akses promosi melalui Rumah UMKM BPDP, memfasilitasi pameran, business matching, hingga pendampingan ekspor. Produk-produk UMKM yang telah memenuhi standar juga dikurasi dan dipromosikan melalui katalog resmi BPDP.
BACA JUGA: Mendag Busan: Kolaborasi dan Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Pemain Utama Kakao Premium Dunia
Dalam podcast tersebut, Founder Minang Kakao, Afdhal Aliasar, membagikan kisah sukses membangun usaha cokelat premium dari kegelisahannya melihat banyak pohon kakao di Sumatera Barat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Berawal dari pembinaan petani, penggunaan bibit unggul, hingga pengembangan produk hilir, Minang Kakao kini menjadi salah satu produsen cokelat Indonesia yang mendapat pengakuan dunia.
"Jangan berhenti di biji kakao. Nilai tambah terbesar tercipta ketika kakao diolah menjadi produk cokelat berkualitas," kata Afdal.
Menurutnya, hilirisasi menjadi kunci peningkatan kesejahteraan petani karena pengolahan kakao menjadi produk akhir mampu menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual biji kakao. Berkat pendekatan tersebut, Minang Kakao berhasil masuk dalam daftar 50 Best Cocoa in the World, membuktikan bahwa kakao Indonesia mampu bersaing di pasar premium global.
BACA JUGA: HPE Kakao Juli 2026 Naik 3,83 Persen, Pasokan Afrika Barat Masih Terganggu
Helmi berharap keberhasilan Minang Kakao dapat menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak UMKM berbasis sawit, kakao, dan kelapa di berbagai daerah Indonesia.
"BPDP ingin melahirkan lebih banyak UMKM sawit, kakao, dan kelapa yang mampu menciptakan nilai tambah dan bersaing di pasar global," tegas Helmi.
Selain mendorong pengembangan UMKM, BPDP juga menyiapkan regenerasi sumber daya manusia melalui program Beasiswa SDM Sawit, yang memberikan kesempatan kepada ribuan generasi muda untuk menempuh pendidikan di bidang perkebunan. Program ini diharapkan melahirkan SDM yang mampu mengembangkan sektor perkebunan berbasis inovasi, teknologi, dan keberlanjutan.
BACA JUGA: Dida Gardera: Riset dan Hilirisasi Sawit Jadi Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia
Melalui sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat, BPDP optimistis hilirisasi komoditas sawit, kakao, dan kelapa akan semakin memperkuat daya saing UMKM Indonesia sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional. (A3)