Mendag Busan: Kolaborasi dan Hilirisasi Kunci Indonesia Jadi Pemain Utama Kakao Premium Dunia


AGRICOM, YOGYAKARTA – Menteri Perdagangan RI Budi Santoso (Mendag Busan) menegaskan bahwa kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam memperkuat daya saing industri kakao Indonesia sekaligus mewujudkan ambisi menjadikan Indonesia sebagai pusat (hub) kakao dan produk cokelat premium berkelanjutan di tingkat global.

Pernyataan tersebut disampaikan Budi Santoso saat menjadi pembicara kunci dalam The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) yang berlangsung di Yogyakarta, Kamis (23/7).

Menurut Budi, sektor kakao memiliki peran strategis karena tidak hanya menopang kehidupan ratusan ribu petani, tetapi juga menciptakan lapangan kerja di sepanjang rantai pasok serta memperkuat perekonomian pedesaan. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, diperlukan sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, hingga mitra internasional.

BACA JUGA: HPE Kakao Juli 2026 Naik 3,83 Persen, Pasokan Afrika Barat Masih Terganggu

"Kakao merupakan komoditas ekspor strategis dengan potensi nilai tambah yang besar. Visi Indonesia adalah menjadi pusat produksi kakao dan cokelat premium yang berkelanjutan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan," ujar Mendag Busan, dikutip Agricom.id dari laman Kemendag, Senin (27/6).

Kinerja ekspor kakao Indonesia juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, nilai ekspor kakao mencapai USD 3,60 miliar, melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan 2021 yang tercatat sebesar USD 1,2 miliar. Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya permintaan pasar global terhadap produk kakao Indonesia.

Indonesia juga telah memperoleh pengakuan dari International Cocoa Organization (ICCO) sebagai produsen fine flavour cocoa atau kakao mulia. Pengakuan ini dinilai membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memperluas pangsa pasar kakao premium dunia.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun 2,78 Persen, BK Ditetapkan USD 148 per Ton

Untuk mempertahankan momentum tersebut, Budi menekankan pentingnya peningkatan inovasi, penguatan indikasi geografis, penerapan praktik budidaya berkelanjutan, serta pengembangan produk bernilai tambah. Di sisi perdagangan, pemerintah akan terus mendorong diversifikasi pasar ekspor, pemenuhan standar internasional, dan optimalisasi berbagai perjanjian dagang.

Saat ini Indonesia telah mengimplementasikan 25 perjanjian perdagangan internasional, dua perjanjian masih dalam proses ratifikasi, serta sebelas lainnya tengah dinegosiasikan, termasuk Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dan kesepakatan perdagangan resiprokal dengan Amerika Serikat.

Kemendag juga mengoptimalkan jaringan 46 perwakilan perdagangan Indonesia di 33 negara untuk memperluas akses pasar, mempromosikan produk nasional, serta memfasilitasi business matching antara eksportir Indonesia dengan calon pembeli di luar negeri.

BACA JUGA: Mentan Amran Percepat Swasembada Gula, Targetkan 3 Juta Ton pada 2029

Dalam kesempatan yang sama, Vice President & Managing Director Cargill untuk Asia Tenggara, Australia, dan Selandia Baru menilai prospek industri kakao Indonesia sangat menjanjikan. Menurutnya, meningkatnya permintaan konsumen terhadap produk yang autentik, berkelanjutan, dan berbasis sumber lokal menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk berkembang sebagai pusat pengolahan dan inovasi kakao di kawasan Asia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif International Cocoa Organization (ICCO), Michel Arrion, menilai Indonesia telah berhasil bertransformasi dari negara produsen biji kakao menjadi salah satu pusat pengolahan kakao. Ia meyakini peningkatan produksi biji kakao domestik akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam industri cokelat global sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP