Harga CPO KPBN Inacom Withdraw 19 Agustus 2026, Bursa Malaysia Ditutup Menguat


AGRICOM, JAKARTA — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang ditawarkan melalui PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) Inacom mengalami withdraw (WD) pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Penawaran tertinggi CPO tercatat sebesar Rp15.755/kg, turun Rp80/kg atau sekitar 0,51% dibandingkan harga pada perdagangan Selasa (18/8/2026) yang mencapai Rp15.835/kg.

Berdasarkan data perdagangan yang diperoleh Agricom dari KPBN Inacom, penawaran CPO Franco Dumai dibuka pada harga Rp15.900/kg, namun berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.755/kg.

Sementara itu, CPO FOB Talang Duku dibuka Rp15.650/kg dan mengalami withdraw pada harga penawaran Rp15.505/kg. Adapun CPO Franco Teluk Bayur dibuka Rp15.700/kg, dengan penawaran tertinggi Rp15.478/kg sebelum akhirnya juga mengalami withdraw.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Naik ke Rp15.835 Per Kg pada Selasa (18/8)

Di tengah belum terjadinya transaksi di pasar domestik, perdagangan CPO di Bursa Malaysia Derivatives justru ditutup menguat pada Rabu (19/8/2026). Kenaikan harga didukung oleh penguatan harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), serta sentimen positif dari pasar energi.

Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan produksi akibat fenomena El Nino turut menopang pergerakan harga minyak sawit. Penguatan harga minyak mentah dunia di tengah konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran juga memberikan dukungan terhadap sentimen pasar komoditas nabati.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Tembus Level Tertinggi Sejak April

Pada penutupan perdagangan, kontrak CPO untuk September 2026 naik RM38 menjadi RM4.654 per ton. Kontrak Oktober 2026 menguat RM40 menjadi RM4.794 per ton, sedangkan kontrak November 2026 bertambah RM33 menjadi RM4.893 per ton.

Pergerakan tersebut menunjukkan adanya perbedaan arah antara pasar CPO domestik dan bursa Malaysia. Ketika penawaran CPO KPBN Inacom berakhir withdraw, kontrak berjangka minyak sawit Malaysia justru melanjutkan penguatan, didorong oleh sentimen pasar minyak nabati dan energi global. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP