AGRICOM, JAKARTA — Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026). Koreksi terjadi setelah pelaku pasar melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul reli harga CPO yang membawa pasar ke level tertinggi dalam 20 bulan pada pekan sebelumnya.
Pelemahan terjadi di seluruh kontrak acuan. Sentimen pasar juga tertekan oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang turut membebani pergerakan harga komoditas minyak nabati.
Mengutip Bernama, harga minyak mentah Brent turun 1,93% menjadi US$93,03 per barel selama perdagangan Senin. Penurunan harga minyak mentah tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pasar komoditas, termasuk CPO.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Menguat Lima Sesi, Kontrak November 2026 Tembus RM5.018 per ton
Pada penutupan perdagangan, kontrak CPO September 2026 turun RM71 menjadi RM4.720 per ton. Kontrak Oktober 2026 melemah RM75 menjadi RM4.859 per ton, sedangkan kontrak November 2026 turun RM72 menjadi RM4.946 per ton.
Kontrak Desember 2026 juga terkoreksi RM64 menjadi RM5.013 per ton. Sementara itu, kontrak Januari 2027 turun RM54 menjadi RM5.064 per ton dan kontrak Februari 2027 melemah RM42 menjadi RM5.099 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Turun ke Rp15.844/Kg pada 24 Agustus 2026
Harga CPO KPBN Ikut Terkoreksi
Pelemahan harga di Bursa Malaysia terjadi bersamaan dengan penurunan harga penawaran CPO pada perdagangan PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN).
Pada Senin (24/8/2026), tender CPO KPBN berakhir withdraw (WD), dengan harga penawaran tertinggi tercatat Rp15.844/kg.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO Agustus Turun ke USD 996,52/MT, Bea Keluar dan Pungutan Ekspor Ikut Disesuaikan
Harga tersebut turun Rp44/kg atau sekitar 0,28% dibandingkan harga penawaran tertinggi pada Jumat (21/8/2026) sebesar Rp15.888/kg.
Koreksi di Bursa Malaysia dan penurunan penawaran tertinggi pada tender KPBN menunjukkan pasar CPO memasuki fase konsolidasi setelah penguatan tajam pada pekan sebelumnya.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Agustus Melonjak 36,66%, HPE Tembus USD 5.064/MT
Meski demikian, pasar CPO Indonesia masih mendapat dukungan dari permintaan domestik yang relatif kuat. Implementasi program biodiesel B50 menjadi salah satu faktor yang berpotensi menjaga konsumsi CPO domestik tetap tinggi dan memberikan penyangga terhadap tekanan dari pasar global. (A3)