Kementerian Pertanian memperkuat kapasitas penyuluh dan petani melalui forum literasi iklim di Manokwari untuk mengantisipasi banjir dan cuaca ekstrem. Foto: istimewa
AGRICOM, Manokwari — Perubahan iklim yang memicu hujan ekstrem dan meningkatkan risiko banjir kian menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas produksi padi. Ketidakpastian musim tanam, lonjakan curah hujan, hingga potensi gagal panen menuntut strategi adaptasi yang lebih terukur dan berbasis data.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan salah satu tantangan terbesar pertanian Indonesia saat ini. Dampaknya tidak hanya pada penurunan produktivitas, tetapi juga pada meningkatnya risiko kekeringan dan banjir yang dapat mengganggu ketahanan pangan.
“Kita harus melakukan mitigasi risiko agar dampaknya tidak mengganggu ketahanan pangan,” tegas Mentan Amran, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Rabu (28/1).
BACA JUGA: Permintaan Gula Aren Lebak Melonjak, Harga dan Omzet Ikut Naik Jelang Ramadhan
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai perubahan iklim ekstrem telah meningkatkan kompleksitas tantangan di sektor pertanian. Fluktuasi suhu, pergeseran pola hujan, dan cuaca yang semakin sulit diprediksi membuat penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian menjadi keharusan.
“Fenomena ini merupakan ancaman nyata bagi pertanian Indonesia. Karena itu, sesuai arahan Menteri Pertanian, diperlukan penguatan SDM pertanian yang adaptif terhadap iklim,” ujarnya.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari menggelar Millennial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 4 bertema “Antisipasi Banjir dan Perubahan Iklim: Strategi Tanam Cerdas untuk Meningkatkan Produksi Padi”, Sabtu (24/1/2026). Forum ini menjadi wadah peningkatan literasi iklim sekaligus penguatan kapasitas penyuluh, petani, dan generasi muda pertanian dalam merespons risiko cuaca ekstrem.
BACA JUGA: Cirebon Siap Jadi Hub Pemasaran Kopi Gunung Ciremai
Kegiatan yang digelar secara daring ini diikuti oleh dosen dan mahasiswa, penyuluh pertanian, serta petani dari berbagai daerah. Peserta dibekali pemahaman tentang strategi tanam cerdas berbasis iklim, agar mampu meminimalkan dampak hujan ekstrem dan banjir terhadap produksi pangan.
Untuk memperkaya perspektif adaptasi, forum menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, di antaranya Prof. Dr. Antonius Suparno, M.P. (Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Papua), Fadri Prasetya, S.Tr., Met. (pengamat meteorologi dan geofisika), serta Feri Irawan (Sekretaris Brigade Pangan Sejahtera 1).
Prof. Antonius menekankan pentingnya penguasaan ilmu klimatologi sebagai dasar pengambilan keputusan di sektor pertanian. Menurutnya, pemanfaatan data cuaca dan prediksi iklim menjadi kunci untuk mengantisipasi risiko sejak dini.
“Dengan memahami prediksi cuaca, petani dapat melakukan langkah antisipatif. Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan fenomena nyata yang sudah dan sedang terjadi,” jelasnya.
Sementara itu, Fadri Prasetya menjelaskan bahwa mitigasi perubahan iklim harus dilakukan secara terpadu, mulai dari pembangunan infrastruktur pengendali banjir, normalisasi sungai, penerapan sistem peringatan dini, hingga pendekatan adaptasi berbasis alam.
“Perubahan iklim adalah threat multiplier. Karena itu, kesiapsiagaan dan perubahan perilaku terhadap alam merupakan investasi mutlak bagi keselamatan dan keberlanjutan pertanian,” paparnya.
Dari sisi praktik lapangan, Feri Irawan menekankan pentingnya percepatan pengolahan lahan dan ketepatan waktu tanam untuk menjaga produktivitas padi di tengah cuaca ekstrem. Ia menuturkan, dukungan pemerintah melalui penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta keterlibatan pihak swasta, telah membantu petani mempercepat proses olah lahan dibandingkan metode konvensional.
“Dengan alsintan, petani tidak kehilangan momentum masa tanam yang sangat krusial di tengah cuaca yang semakin tidak menentu,” ujarnya.
Menutup kegiatan, Kepala Pusat Pendidikan Muhammad Amin menegaskan bahwa tema forum sangat relevan dengan kondisi curah hujan tinggi di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus mendukung mitigasi risiko terhadap program strategis Kementerian Pertanian.
“Swasembada pangan harus berkelanjutan dan didukung strategi adaptif. Banjir dan iklim ekstrem tidak boleh menghentikan produksi. Jika satu lokasi terkendala, potensi lahan lain harus dioptimalkan agar produktivitas nasional tetap terjaga,” tegasnya. (A3)