Potensi Kakao Lampung Timur Dinilai Menjanjikan, Bisa Jadi Penopang Ekonomi Petani

Potensi Kakao Lampung Timur Dinilai Menjanjikan, Bisa Jadi Penopang Ekonomi Petani
Agricom.id

04 February 2026 , 14:51 WIB

Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat menjanjikan karena mampu memberikan pendapatan berlapis bagi petani melalui sistem tumpang sari, seiring dukungan offtaker, pemerintah daerah, dan penguatan kelembagaan petani. Foto: Istimewa

 

AGRICOM, BANDARLAMPUNG – Potensi pengembangan kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan. Komoditas ini bahkan disebut mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi petani apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus, mengatakan kakao bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan sistem pertanian terpadu yang mampu memberikan sumber pendapatan dari berbagai lapisan lahan.

“Kakao itu unik. Bisa ditanam secara tumpang sari. Dalam satu lahan, petani bisa panen dari bawah sampai atas,” ujar Japung di Bandarlampung, Selasa (3/2).

BACA JUGA: Harga Referensi dan HPE Biji Kakao Februari 2026 Naik, BK dan Pungutan Ekspor Tetap 7,5 Persen

Ia menjelaskan, di bawah tegakan kakao petani dapat menanam talas atau umbi-umbian, pada lapisan tengah memanen kakao, sementara di tajuk atas dapat ditanam kelapa atau alpukat. Pola ini membuat satu hektare kebun kakao seolah memiliki nilai ekonomi setara tiga hektare lahan.

“Kalau istilah kami, satu hektare kakao itu rasanya seperti tiga hektare karena panennya berlapis,” katanya, dikutip Agricom.id dari Antara.

Japung mengakui, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran pada periode 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Kondisi tersebut mendorong banyak petani menebang tanaman kakao dan beralih ke komoditas lain.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Selasa (3/2) Turun, Sejalan Pelemahan Pasar Malaysia

Namun sejak 2015, sektor kakao perlahan bangkit. Kebangkitan ini tidak terlepas dari kehadiran offtaker serta pendampingan intensif yang didukung langsung oleh Pemerintah Kabupaten Lampung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah.

“Peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam sangat besar. Mereka membawa klon baru yang lebih tahan hama sekaligus melakukan pendampingan ke petani bersama Pemkab Lampung Timur,” jelasnya.

Selain dukungan offtaker, geliat kakao di Lampung Timur juga diperkuat oleh kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (NGO) yang aktif mendampingi petani, mulai dari aspek budidaya hingga penanganan pascapanen.

BACA JUGA: APKARINDO Sumsel Dorong GERNAS KARET, Replanting Berkeadilan untuk Bangkitkan Karet Rakyat

Meski demikian, Japung menilai masih ada tantangan serius yang dihadapi petani, terutama terkait keamanan kebun. Kondisi ini kerap memaksa petani memanen kakao sebelum buah matang sempurna.

“Masalah utama itu keamanan. Petani takut keburu diambil orang lain, akhirnya panen muda, dijual basah, kualitas rendah, dan harganya murah,” ujarnya.

Saat ini, harga kakao basah di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram. Padahal, menurut Japung, nilai jual kakao bisa meningkat signifikan jika dipanen matang dan difermentasi dengan baik.

“Kalau kondisi aman, petani bisa panen tua, difermentasi, dan hasilnya bisa masuk kategori kakao premium. Harganya tentu jauh lebih baik,” katanya.

Untuk mendorong peningkatan kualitas, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung guna mengembangkan kakao premium. Program tersebut mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, serta penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Saat ini kami fokus membenahi hulu dan pascapanen. Kalau sudah berjalan baik, target jangka menengah kami adalah memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur,” ujar Japung.

Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan kakao ke depan juga sangat bergantung pada penguatan kelembagaan petani. Dengan berkelompok, petani dinilai lebih mudah berkembang, saling belajar, dan menjaga keamanan kebun secara kolektif.

“Kalau petani kuat secara kelembagaan, semuanya bisa jalan. Dari budidaya, sambung sisip, sampai ronda kebun. Ini yang terus kami dorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan meningkatkan kesejahteraan petani,” pungkasnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP