Tekanan dari minyak nabati pesaing menahan laju harga, tetapi tren bulanan minyak sawit tetap menunjukkan penguatan signifikan. Foto: Agricom
AGRICOM, JAKARTA – Pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global mulai menunjukkan koreksi setelah sempat menguat dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Selasa (31/3/2026), harga CPO di Bursa Malaysia Derivatives tercatat melemah, dipicu oleh tekanan dari pergerakan minyak nabati pesaing.
Dilansir dari Reuters, Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juni 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun sebesar 33 ringgit atau sekitar 0,69%, menjadi 4.739 ringgit per ton pada jeda perdagangan siang. Koreksi ini mengakhiri tren penguatan yang terjadi selama tiga sesi berturut-turut sebelumnya.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Naik Tiga Hari Beruntun, Ekspor dan Soyoil Jadi Penopang
Meski mengalami penurunan harian, kinerja harga CPO secara bulanan masih menunjukkan tren yang sangat positif. Sepanjang Maret 2026, harga minyak sawit tercatat telah melonjak sekitar 18,75%. Capaian ini menempatkan CPO pada jalur untuk membukukan kenaikan bulanan tertinggi sejak April 2022, mencerminkan kuatnya sentimen pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Di pasar domestik, harga CPO juga menunjukkan tren penguatan. Berdasarkan hasil tender di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), harga CPO ditetapkan sebesar Rp16.050/kg pada Selasa (31/3/2026). Angka ini naik Rp200/kg atau sekitar 1,26% dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang berada di level Rp15.850/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (31/3) Tembus Rp16.050/Kg, Bursa Malaysia Terkoreksi Setelah Reli Tiga Hari
Pergerakan harga CPO global saat ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak nabati lainnya, terutama minyak kedelai. Di Bursa Dalian, harga kontrak minyak kedelai (soyoil) tercatat melemah tipis sebesar 0,02%, sementara kontrak minyak sawit justru menguat 0,84%. Adapun di Chicago Board of Trade, harga soyoil mengalami koreksi sebesar 0,38%.
Kondisi ini menegaskan bahwa minyak sawit berada dalam persaingan ketat dengan minyak nabati lain di pasar global. Fluktuasi harga pada komoditas pesaing kerap menjadi faktor penentu arah pergerakan CPO, seiring substitusi penggunaan di berbagai sektor industri.
BACA JUGA: Harga Referensi CPO April 2026 Naik ke USD 989,63/MT, Ini Dampaknya ke Bea Keluar
Dengan volatilitas yang masih tinggi, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan harga minyak nabati global serta faktor fundamental lainnya, termasuk permintaan ekspor dan kondisi pasokan, guna menentukan arah pergerakan harga CPO ke depan. (A3)