Pangan Jadi Pilar Pertahanan, Indonesia Perkuat Produksi dan Tekan Impor


AGRICOM, LEMBANG — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pangan kini memiliki peran yang jauh lebih strategis, tidak hanya sebagai kebutuhan dasar, tetapi juga sebagai bagian penting dari sistem pertahanan dan kedaulatan negara. Di tengah ancaman krisis global, Indonesia dinilai semakin kuat berkat peningkatan produksi dan penurunan ketergantungan terhadap impor pangan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam Stadium General Pasis SeskoAU Angkatan ke-64 Tahun Pendidikan 2026 di Gedung Widya Mandala I Sesko AU, Lembang, Jawa Barat, pada 1 April 2026.

BACA JUGA: Kementan Percepat Hilirisasi Pertanian, Dorong Biofuel dan Bioetanol untuk Kemandirian Energi

Menurut Amran, penguasaan sektor pangan menjadi kunci agar Indonesia tidak mudah tertekan oleh dinamika global. Ia menegaskan, capaian saat ini menunjukkan arah positif dengan produksi yang terus meningkat dan impor yang semakin terkendali.

“Kalau pangan tidak kita kuasai, negara bisa ditekan. Tapi hari ini kita buktikan, produksi naik, impor turun, dan Indonesia semakin kuat,” tegas Mentan Amran, dalam keterangan yang diperoleh Agricom.id, Kamis (2/4).

Ketergantungan terhadap impor, lanjutnya, merupakan titik lemah yang berisiko besar, terutama saat terjadi krisis global. Ketika negara produsen membatasi ekspor, negara yang bergantung pada impor akan langsung merasakan dampaknya.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (31/3) Tembus Rp16.050/Kg, Bursa Malaysia Terkoreksi Setelah Reli Tiga Hari

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menjalankan langkah strategis melalui peningkatan produksi dalam negeri, pengendalian impor secara bertahap, serta penguatan cadangan pangan nasional. Hasilnya mulai terlihat nyata dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan data internasional, termasuk dari United States Department of Agriculture, produksi pangan Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Bahkan, stok beras nasional telah mencapai 4,3 juta ton dan ditargetkan meningkat menjadi 4,5 juta ton dalam waktu dekat.

Amran menegaskan bahwa capaian tersebut bukan semata soal ekonomi, melainkan menyangkut kedaulatan bangsa. Pangan, menurutnya, merupakan bagian integral dari sistem pertahanan negara.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO April 2026 Naik ke USD 989,63/MT, Ini Dampaknya ke Bea Keluar

Keberhasilan ini juga mengubah posisi Indonesia dari negara pengimpor menjadi pemain yang mulai diperhitungkan di tingkat global. Kebijakan pengendalian impor bahkan disebut mulai memberi pengaruh terhadap dinamika harga pangan dunia.

Sejumlah negara seperti Malaysia, Australia, Jepang, hingga Kanada kini mulai mempelajari strategi Indonesia dalam meningkatkan produksi dan menjaga stabilitas pasokan. Amran menilai, keberanian dalam mengambil keputusan serta kecepatan dalam bertindak menjadi faktor pembeda utama.

Selain sektor pangan, Amran juga menyoroti pentingnya kemandirian energi sebagai bagian dari ketahanan nasional. Sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global, Indonesia memiliki posisi strategis untuk memperkuat hilirisasi industri sawit.

Optimalisasi sektor ini diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dalam beberapa tahun ke depan. Ia menegaskan, kekuatan pangan dan energi akan membuat Indonesia lebih tahan terhadap tekanan eksternal.

Penguatan sektor pertanian juga memberikan dampak langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Program berbasis desa dinilai mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan daya beli masyarakat, serta memperkuat fondasi ekonomi rakyat.

Melalui penguatan koperasi, rantai distribusi dapat dipersingkat sehingga nilai tambah lebih banyak dinikmati petani, sementara harga tetap terjangkau bagi konsumen.

Dengan kombinasi ketahanan pangan, kemandirian energi, dan hilirisasi sumber daya strategis seperti nikel, Indonesia dinilai berada pada jalur menuju kekuatan ekonomi global baru.

Amran optimistis, dengan konsistensi kebijakan serta kolaborasi lintas sektor, Indonesia tidak hanya mampu bertahan menghadapi tekanan global, tetapi juga berpotensi menjadi pemimpin.

Ketahanan pangan, menurutnya, merupakan benteng utama. Jika sektor ini kuat, maka Indonesia tidak hanya aman, tetapi juga berdaulat secara penuh. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP