AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar domestik dan global kompak bergerak melemah pada awal pekan, Senin (27/4/2026), dipicu lemahnya permintaan ekspor serta meningkatnya ekspektasi produksi selama April.
Di pasar domestik, harga CPO pada PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) ditetapkan Rp15.459/kg, turun Rp41/kg atau sekitar 0,26% dibandingkan perdagangan Jumat (24/4/2026) yang berada di level Rp15.500/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Jumat (24/4) Naik Tipis, Bursa Malaysia Catat Kenaikan Mingguan Perdana
Berdasarkan informasi yang dihimpun Agricom.id dari KPBN, harga CPO Franco Dumai juga ditetapkan Rp15.459/kg. Sementara itu, harga CPO Loco Parindu dibuka Rp15.109/kg, namun terjadi withdraw (WD) dengan penawaran tertinggi tercatat Rp14.850/kg.
Penurunan harga domestik sejalan dengan pergerakan pasar global. Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak acuan CPO pengiriman Juli 2026 turun RM39 per ton atau 0,85% menjadi RM4.558 per ton. Koreksi ini terjadi setelah pada sesi sebelumnya kontrak yang sama sempat menguat 0,39%.
BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Berbalik Naik, Catat Kenaikan Mingguan Pertama dalam Tiga Pekan
Mengutip Reuters, pelaku pasar menilai tekanan harga saat ini berasal dari kombinasi melemahnya ekspor dan potensi kenaikan produksi, sehingga membatasi ruang penguatan harga dalam jangka pendek.
Tekanan dari sisi permintaan terlihat dari data survei kargo Intertek Testing Services yang mencatat ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–25 April turun 15,7% dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini memperkuat sinyal bahwa serapan pasar ekspor masih lesu.
BACA JUGA: Harga TBS Sawit Plasma Riau Turun, Sentuh Rp3.948/Kg di Periode 22-28 April 2026
Selain itu, pergerakan harga CPO juga dipengaruhi dinamika minyak nabati pesaing di pasar internasional. Pada perdagangan yang sama, kontrak soybean oil paling aktif di Bursa Dalian turun 0,44%, sedangkan kontrak palm oil di bursa tersebut naik tipis 0,17%. Sementara itu, harga soybean oil di Chicago Board of Trade tercatat menguat 0,53%.
Kondisi ini menunjukkan pasar masih mencermati perkembangan pasokan global, permintaan dari negara importir utama, serta arah harga minyak nabati lain yang menjadi kompetitor sawit.
BACA JUGA: Hilirisasi Perkebunan Digenjot, Indonesia Bidik Kemandirian Energi Nasional
Dalam jangka pendek, harga CPO diperkirakan masih bergerak fluktuatif sambil menunggu data produksi akhir April dan perkembangan ekspor dari Malaysia maupun Indonesia. (A3)