Dok. Agricom/ Harga penawaran tertinggi CPO KPBN turun ke Rp12.285/kg pada Kamis (21/5/2026), seiring melemahnya harga CPO Bursa Malaysia akibat lesunya ekspor minyak sawit.
AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) kembali mengalami withdraw (WD) pada perdagangan Kamis (21/5/2026), seiring melemahnya perdagangan CPO global di Bursa Malaysia Derivatives.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Agricom.id dari KPBN, harga penawaran tertinggi CPO tercatat sebesar Rp12.285/kg. Dengan demikian, harga CPO turun Rp2.215/kg atau sekitar 15,21 persen dibandingkan perdagangan Rabu (20/5/2026) yang mencapai Rp14.500/kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Rabu (20/5) Anjlok 5,77%, Pasar Global Dibayangi Reformasi Ekspor Indonesia
Untuk tender Franco Dumai, harga pembukaan tercatat Rp15.500/kg, namun berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp14.500/kg.
Sementara itu, harga CPO FOB Talang Duku dibuka di level Rp14.865/kg dan juga mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi Rp12.285/kg. Kemudian Franco Teluk Bayur dibuka Rp14.935/kg dan withdraw dengan penawaran tertinggi Rp12.380/kg.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Bergerak Terbatas, Pasar Tunggu Dampak Kebijakan Ekspor Baru Indonesia
Di lokasi lainnya, Loco Ngabang tercatat dibuka Rp14.715/kg dan mengalami withdraw dengan penawaran tertinggi Rp12.904/kg.
Untuk komoditas palm kernel (PK) Franco Belawan, harga dibuka Rp14.862/kg dan berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp14.230/kg.
BACA JUGA: Diskusi Forwatan: Aspekpir Dukung Mandatori PSR, Minta Pemerintah Selesaikan Legalitas Kebun Plasma
Pelemahan harga di pasar domestik sejalan dengan pergerakan CPO di Bursa Malaysia Derivatives yang kembali melemah pada perdagangan Kamis (21/5/2026), memperpanjang penurunan selama dua sesi berturut-turut.
Dilansir Reuters, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Agustus 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun RM55 per ton atau sekitar 1,2 persen menjadi RM4.528 per ton pada jeda perdagangan siang.
BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Kamis (21/5) Turun Tipis, Masih Bertahan di Atas Rp39 Ribu/Kg
Sentimen negatif dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap perlambatan ekspor minyak sawit Malaysia sepanjang Mei 2026. Berdasarkan data surveyor kargo, ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1–20 Mei diperkirakan turun antara 13,9 persen hingga 20,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi tersebut semakin menekan pasar, terutama ketika harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai juga bergerak melemah di perdagangan global.
BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi
Di Dalian Commodity Exchange, harga kontrak minyak kedelai paling aktif tercatat turun 0,61 persen, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama melemah sekitar 1 persen.
Tekanan tambahan juga datang dari pasar Amerika Serikat, di mana harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) terkoreksi sekitar 0,43 persen.
Pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan permintaan ekspor dari negara konsumen utama seperti India dan China, di tengah fluktuasi harga minyak nabati global serta pergerakan pasar energi dunia. (A3)