Dok. Agricom/ Tender CPO KPBN pada Jumat (19/6/2026) kembali berakhir withdraw meski harga penawaran tertinggi naik menjadi Rp15.358/Kg. Di saat yang sama, kontrak CPO Bursa Malaysia ditutup menguat didorong kekhawatiran pasokan global dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
AGRICOM, JAKARTA – Perdagangan minyak sawit mentah (CPO) domestik dan global menunjukkan arah yang berbeda pada akhir pekan. Di pasar domestik, tender CPO PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) kembali berakhir withdraw (WD), meskipun harga penawaran tertinggi masih mencatat kenaikan. Sementara itu, di pasar internasional, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia ditutup menguat seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global dan gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Berdasarkan data yang diperoleh Agricom.id, harga penawaran tertinggi CPO dalam tender KPBN pada Jumat (19/6/2026) mencapai Rp15.358/Kg. Angka tersebut naik Rp23/Kg atau sekitar 0,15% dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp15.335/Kg.
BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik 1,22% di Tengah Tekanan Bursa Malaysia dan Pasar Global
Untuk kontrak Franco Dumai, harga pembukaan ditetapkan sebesar Rp15.600/Kg, namun tender berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.358/Kg. Sementara itu, kontrak FOB Talang Duku dibuka pada level Rp15.400/Kg dan juga berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp15.111/Kg.
Tender Franco Teluk Bayur mengalami kondisi serupa. Harga pembukaan berada di level Rp15.470/Kg, namun belum mencapai kesepakatan transaksi dengan penawaran tertinggi sebesar Rp15.170/Kg.
Di sisi lain, perdagangan produk turunan sawit menunjukkan aktivitas yang lebih baik. Harga minyak inti sawit mentah (CPKO) FOB Lampung tercatat sebesar Rp24.147/Kg.
BACA JUGA: CPO Malaysia Ditutup Menguat, Sentimen Pasokan dan Geopolitik Angkat Harga Minyak Sawit
Untuk komoditas inti sawit (PK), harga tertinggi tercatat di Loko PKS Rantau Dua sebesar Rp11.640/Kg, disusul Loko PKS Solok Selatan Rp11.625/Kg, Loko PKS Bunut Rp11.510/Kg, dan Loko PKS Pengabuan Rp11.460/Kg. Sementara itu, tender PK Loko Pelaihari berakhir withdraw dengan penawaran tertinggi Rp8.000/Kg.
Sementara pasar domestik masih dibayangi aksi withdraw, perdagangan CPO di Bursa Malaysia justru mencatat penguatan yang cukup solid. Dilansir Bernama, kontrak berjangka CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup lebih tinggi pada akhir perdagangan Jumat dan mengakhiri pekan dengan sentimen positif.
Kontrak pengiriman Juli 2026 melonjak RM84 menjadi RM4.594 per ton. Kontrak Agustus 2026 naik RM78 menjadi RM4.622 per ton, sedangkan kontrak September 2026 menguat RM73 menjadi RM4.646 per ton.
BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Turun Seiring Pelemahan Minyak Nabati dan Energi
Penguatan juga terjadi pada kontrak jangka menengah. Kontrak Oktober 2026 naik RM65 menjadi RM4.668 per ton, kontrak November 2026 bertambah RM61 menjadi RM4.689 per ton, dan kontrak Desember 2026 meningkat RM52 menjadi RM4.710 per ton.
Pelaku pasar menilai kenaikan harga tersebut didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan minyak nabati global serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang turut mengerek harga energi dunia. Kondisi tersebut memperkuat prospek permintaan minyak sawit sebagai salah satu komoditas strategis dalam rantai pasok energi dan pangan global.
Meskipun harga menguat, volume perdagangan di Bursa Malaysia turun menjadi 76.763 lot dari 91.261 lot pada sesi sebelumnya. Namun minat investor masih tetap kuat, tercermin dari kenaikan open interest menjadi 287.112 kontrak dibandingkan 286.986 kontrak sebelumnya.
BACA JUGA: Akhir Pekan Menguat Tipis, Harga Karet SGX-SICOM Masih Bertahan di Atas Rp40.000/Kg
Di pasar fisik Malaysia, harga CPO pengiriman Juni untuk wilayah Selatan Malaysia juga meningkat RM50 menjadi RM4.560 per ton, menandakan sentimen positif mulai merata di pasar berjangka maupun fisik.
Dengan penguatan yang terjadi di Bursa Malaysia dan kenaikan tipis harga penawaran tertinggi pada tender KPBN, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan pasokan global, pergerakan harga energi, serta dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi arah harga minyak sawit pada pekan mendatang. (A3)