Wamentan Sudaryono: Pengusaha Tani Harus Bidik Ekspor, Bukan Bergantung pada Proyek Pemerintah

Wamentan Sudaryono: Pengusaha Tani Harus Bidik Ekspor, Bukan Bergantung pada Proyek Pemerintah
Agricom.id

24 July 2026 , 10:36 WIB

Dok. Kementan/Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di acara pelantikan jajaran Pengurus Pengusaha Tani Indonesia sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PTI di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

AGRICOM, JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengajak Pengusaha Tani Indonesia (PTI) mengubah paradigma usaha dengan lebih berfokus membangun bisnis pertanian yang berkelanjutan, berdaya saing, dan berorientasi ekspor, dibanding hanya mengandalkan proyek pemerintah.

Ajakan tersebut disampaikan Sudaryono saat melantik jajaran Pengurus Pengusaha Tani Indonesia sekaligus membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I PTI di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

BACA JUGA: Jelang Pimpin BGN, Sudaryono Tegaskan MBG Perkuat Kesejahteraan Petani

Menurut Sudaryono, kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional telah membuka berbagai peluang bisnis baru, terutama melalui peningkatan produksi dan perluasan akses pasar internasional.

Ia menilai peluang terbesar bagi pelaku usaha saat ini berada pada ekspor komoditas pertanian, bukan pada persaingan memperoleh proyek pemerintah.

"Pemerintah sedang membuka berbagai akses ekspor, mulai dari ceker ayam ke China, karet ke Rusia, hingga komoditas lainnya. Pengusaha tani harus mengambil peluang tersebut dan membangun bisnis yang sehat serta berorientasi ekspor, bukan hanya mengejar proyek pemerintah," ujar Sudaryono, dikutip Agricom.id dari laman Kementan, Kamis (23/7).

BACA JUGA: Presiden Prabowo Percepat Target Swasembada Gula Jadi Dua Tahun, Mentan Amran Siap Tancap Gas

Sudaryono menjelaskan bahwa ruang proyek pemerintah memiliki keterbatasan dan seluruh prosesnya diawasi secara ketat. Sebaliknya, peluang bisnis di sektor pertanian jauh lebih besar apabila pelaku usaha mampu membangun jaringan pemasaran dan memanfaatkan pasar global.

Ia menegaskan pemerintah siap membantu membuka akses pasar, namun pelaku usaha harus aktif mengembangkan usaha yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperkuat daya saing produk pertanian Indonesia.

Selain itu, Wamentan menilai strategi bisnis para pengusaha perlu selaras dengan agenda nasional, terutama dalam mendukung target swasembada pangan yang menjadi salah satu program utama pemerintahan Presiden Prabowo.

BACA JUGA: PERISAI 2026: Dirjenbun Dorong Percepatan PSR, Optimalkan Bantuan Sarpras, dan Perkuat Manajemen Perkebunan Sawit

"Kalau pemerintah sedang fokus pada swasembada pangan, maka pelaku usaha juga harus bergerak mengikuti arah kebijakan tersebut. Ini momentum besar yang harus dimanfaatkan," katanya.

Dalam kesempatan itu, Sudaryono juga mengungkapkan pemerintah tengah menjalankan program pengembangan sembilan komoditas perkebunan strategis, antara lain kelapa, kakao, kopi, pala, lada, dan sejumlah komoditas ekspor lainnya dengan dukungan anggaran sekitar Rp9,9 triliun.

Program tersebut diyakini akan membuka peluang baru di berbagai lini usaha, mulai dari perdagangan, pengolahan, hingga ekspor hasil perkebunan.

"Ketika pemerintah membangun sentra produksi kelapa, kakao, kopi, atau pala, pengusaha tani harus siap menjadi pelaku perdagangan, industri pengolahan, hingga eksportir. Nilai ekonominya sangat besar," jelasnya.

Sebagai contoh, Sudaryono menyoroti keberhasilan pemerintah membuka akses ekspor durian Indonesia langsung ke pasar China. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas pasar internasional bagi produk pertanian nasional.

Di sisi lain, ia menegaskan seluruh layanan di Kementerian Pertanian dijalankan secara transparan dan sesuai ketentuan. Masyarakat diminta tidak mempercayai pihak-pihak yang mengatasnamakan dirinya maupun pejabat Kementerian Pertanian untuk menawarkan bantuan dengan imbalan tertentu.

Menutup sambutannya, Sudaryono mengajak para pengurus PTI lebih sering turun ke lapangan agar memahami kebutuhan petani sekaligus menemukan peluang usaha secara langsung.

"Jangan hanya berada di ruang ber-AC. Peluang usaha ada di sawah, kebun, dan sentra produksi. Di sanalah potensi agribisnis yang sesungguhnya bisa dikembangkan," pungkasnya.

Rakernas I Pengusaha Tani Indonesia diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pelaku usaha dalam membangun ekosistem agribisnis yang modern, kompetitif, serta mampu meningkatkan ekspor dan kesejahteraan petani Indonesia. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP