Kemenperin Dorong Industri Pati Ubi Kayu, Perkuat Rantai Pasok untuk Swasembada Pangan

Kemenperin Dorong Industri Pati Ubi Kayu, Perkuat Rantai Pasok untuk Swasembada Pangan
Agricom.id

04 February 2026 , 15:06 WIB

Kementerian Perindustrian mempertemukan produsen dan pengguna pati ubi kayu melalui Business Matching untuk memperkuat rantai pasok hulu–hilir, meningkatkan daya saing industri nasional, serta mendorong substitusi impor dan swasembada pangan. Foto: Kemenperin

 

AGRICOM, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mempercepat pengembangan dan peningkatan daya saing industri pati ubi kayu nasional sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada pangan. Strategi yang ditempuh meliputi diversifikasi spesifikasi produk, substitusi impor, serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir.

Sebagai wujud komitmen memperluas pasar pati ubi kayu dalam negeri, Kemenperin bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu pada 22 Januari 2026. Forum ini dirancang untuk mempertemukan industri produsen dengan industri pengguna, sehingga kebutuhan pati ubi kayu nasional dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri.

BACA JUGA: Potensi Kakao Lampung Timur Dinilai Menjanjikan, Bisa Jadi Penopang Ekonomi Petani

Langkah tersebut sejalan dengan salah satu pilar Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yakni penguatan keterkaitan backward–forward linkage guna membangun rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien. Melalui pendekatan ini, Kemenperin mengakselerasi industrialisasi berbasis sumber daya alam, khususnya pada komoditas strategis pati ubi kayu.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi sekitar 43 persen. Meski demikian, industri tersebut telah menguasai sekitar 79 persen pasar domestik.

“Kami optimistis industri pati ubi kayu nasional masih sangat potensial untuk ditingkatkan kembali dan mampu menembus pasar yang lebih luas,” ujar Agus saat membuka kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/1) lalu.

BACA JUGA: APKARINDO Sumsel Dorong GERNAS KARET, Replanting Berkeadilan untuk Bangkitkan Karet Rakyat

Pati ubi kayu dinilai sebagai komoditas strategis dengan nilai tambah tinggi. Di sektor pangan, pati ubi kayu dimanfaatkan sebagai bahan baku pemanis, bumbu, makanan ringan, hingga mi instan. Sementara di sektor nonpangan, komoditas ini digunakan dalam industri kertas, bahan kimia, dan etanol.

Kinerja sektor ini juga menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pati ubi kayu tercatat mencapai US$18,7 juta pada November 2025, melonjak 58,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menegaskan besarnya peluang pengembangan industri pati ubi kayu ke depan.

Namun demikian, Menperin mengakui masih terdapat tantangan yang perlu dihadapi, terutama persaingan harga dan mutu dengan produk impor. Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen dan industri pengguna pati ubi kayu, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK).

BACA JUGA: Harga Referensi dan HPE Biji Kakao Februari 2026 Naik, BK dan Pungutan Ekspor Tetap 7,5 Persen

Selain itu, Agus juga menekankan pentingnya diversifikasi spesifikasi produk agar dapat memenuhi kebutuhan industri pengguna. Ia mengapresiasi langkah pelaku industri, baik produsen maupun pengguna, yang terus berupaya meningkatkan kinerja, memperluas akses pasar, serta mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dan produk dalam negeri.

Kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu yang berlokasi di Provinsi Lampung serta 51 calon pembeli. Para buyer tersebut berasal dari dua asosiasi industri dan 49 perusahaan pengguna ubi kayu di sektor pangan—seperti pemanis, bumbu, makanan ringan, dan mi instan—serta sektor nonpangan, termasuk kertas, bahan kimia, dan etanol. Pertemuan bisnis dilakukan secara one-on-one dalam tiga sesi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, turut menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi antara produsen dan pengguna pati ubi kayu. Ia berharap kemitraan yang terjalin dapat berkelanjutan sehingga kemandirian industri dalam negeri semakin kuat.

Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendorong Lampung menjadi pusat diversifikasi industri tapioka nasional. “Kami ingin industri tapioka Lampung tidak hanya bertumpu pada produk konvensional, tetapi juga berkembang ke berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi. Melalui Business Matching ini, kami berharap lahir komitmen nyata dan kemitraan jangka panjang yang mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya. (A3)

Sumber: Kemenperin

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP