Program penanaman kakao hibrida skala besar di Lima Puluh Kota tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong kesejahteraan petani. Foto: Istimewa
AGRICOM, LIMAPULUHKOTA – Pemerintah Kabupaten Lima Puluh Kota menargetkan penanaman sebanyak 2 juta batang kakao hibrida pada 2026 sebagai langkah strategis untuk menghidupkan kembali kejayaan komoditas kakao yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.
Program ambisius ini mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan yang mengalokasikan anggaran khusus untuk penyediaan bibit unggul kakao hibrida.
BACA JUGA: BRIN Kembangkan Teknologi Gula Semut dari Sorgum, Dorong Alternatif Gula Lokal
Dalam pelaksanaannya, Pemkab juga melibatkan pelaku usaha lokal. CV Hadistira Jaya Kencana yang berlokasi di Jorong Gando, Nagari Piobang, ditunjuk sebagai penyedia bibit kakao hibrida jenis TSH-858 dan ICS-60. Keterlibatan pihak lokal ini sekaligus menjadi bagian dari strategi pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Tak hanya fokus pada penyediaan bibit, program ini juga membuka peluang kerja bagi warga. Masyarakat Nagari Piobang dilibatkan secara langsung dalam proses persemaian, perawatan, hingga distribusi bibit, sehingga memberikan dampak ekonomi yang nyata di tingkat lokal.
BACA JUGA: Awal Pekan Melemah, Harga Karet SGX-SICOM Senin (13/4) Turun Rp400 Per Kg
Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang, menegaskan bahwa pengembangan kakao merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi daerah. Ia mengingatkan bahwa kakao pernah menjadi komoditas unggulan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kakao pernah menjadi primadona yang mengangkat perekonomian masyarakat. Kini, kita berupaya mengembalikannya dengan skala lebih besar dan sistem yang lebih baik, dengan dukungan penuh dari Menteri Pertanian,” ujarnya, dikutip Agricom.id dari KBRN RRI, Selasa (14/4/2026).
BACA JUGA: Presiden Prabowo Siapkan Produksi Avtur Berbasis Sawit dan Limbah, Investasi Kilang Disiapkan
Safni menekankan bahwa keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah tanaman yang ditanam, tetapi juga dari peningkatan produktivitas dan kualitas hasil panen. Untuk itu, pemerintah daerah menyiapkan langkah menyeluruh, mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis oleh penyuluh, hingga penguatan kelembagaan petani.
Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Hortikultura dan Perkebunan, Witra Porsepwandi, memastikan bahwa kesiapan lahan telah melalui kajian teknis yang matang. Identifikasi dilakukan berdasarkan kesesuaian agroklimat, termasuk kondisi tanah, curah hujan, serta aksesibilitas wilayah.
BACA JUGA: Dorong Kesejahteraan Petani, Pemda Aceh Utara Luncurkan Gerakan Kakao Bangkit
“Kami juga menyiapkan pendampingan terpadu bagi petani, mulai dari pelatihan budidaya, pengendalian hama, hingga penanganan pasca panen, agar kualitas kakao mampu bersaing dan memiliki nilai tambah,” jelasnya.
Program ini pun mendapat sambutan positif dari petani. Nono, salah satu petani di Kecamatan Guguak, menyebut pengembangan kakao sebagai peluang baru untuk meningkatkan pendapatan.
BACA JUGA: Benih Jadi Kunci, Pemerintah dan DPR Percepat Swasembada Bawang Putih
“Kalau program ini berjalan sesuai rencana, kami optimistis kakao bisa kembali jadi andalan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” katanya.
Dengan pendekatan terintegrasi dan dukungan berbagai pihak, Pemkab Lima Puluh Kota optimistis kebangkitan kakao bukan sekadar wacana, melainkan langkah nyata menuju penguatan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah. (A3)