INSTIPER Kenalkan Malam Batik Berbasis Sawit kepada Pengrajin Batik Tamansari

INSTIPER Kenalkan Malam Batik Berbasis Sawit kepada Pengrajin Batik Tamansari
Agricom.id

15 April 2026 , 14:29 WIB

Edukasi dan praktik penggunaan malam sawit membuka peluang transformasi batik Yogyakarta menuju produksi yang lebih berkelanjutan. Foto: Instiper/ Agricom

 

AGRICOM, YOGYAKARTA – Upaya pelestarian batik sebagai warisan budaya terus berkembang seiring tuntutan keberlanjutan. Di Yogyakarta, batik tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga bagian penting dari aktivitas ekonomi dan pariwisata. Statusnya sebagai warisan budaya tak benda yang diakui UNESCO sejak 2009 semakin memperkuat posisi strategis batik dalam kehidupan masyarakat.

Namun di balik itu, proses produksi batik masih menghadapi tantangan, terutama terkait penggunaan bahan malam berbasis parafin yang berasal dari fosil. Untuk menjawab tantangan tersebut, INSTIPER Yogyakarta memperkenalkan inovasi malam batik berbahan dasar kelapa sawit kepada para pengrajin di Kampung Batik Tamansari.

BACA JUGA: 

- Presiden Prabowo Siapkan Produksi Avtur Berbasis Sawit dan Limbah, Investasi Kilang Disiapkan

- Sinergi Kampus dan Industri, Pabrik Kelapa Sawit Teknologi SPOT Mulai Dibangun di Yogyakarta

Program ini merupakan bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin oleh Betti Yuniasih, dengan fokus pada edukasi dan praktik penggunaan malam berbasis stearin—fraksi padat dari minyak kelapa sawit—sebagai alternatif pengganti parafin.

Kegiatan berlangsung sepanjang Januari hingga April 2026 dan melibatkan 10 pengrajin dari Paguyuban Batik Tamansari.

Menurut Betti, pemilihan lokasi di Tamansari bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra batik sekaligus destinasi wisata yang ramai dikunjungi, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

BACA JUGA: 

- INSTIPER Cetak Lulusan Siap Kerja, 56 Mahasiswa SDM PKS Jalani Uji Kompetensi Asisten Kebun

- Harga Referensi CPO April 2026 Naik ke USD 989,63/MT, Ini Dampaknya ke Bea Keluar

“Program ini tidak hanya menyasar pengrajin, tetapi juga menjadi sarana kampanye produk turunan kelapa sawit yang lebih ramah lingkungan,” kata Betti kepada Agricom.id, Rabu (15/4).

Kegiatan pengabdian ini dimulai dengan pre-test pemahaman tentang malam batik dan potensi stearin sebagai pengganti paraffin. Hasil pretest menunjukkan sebagain besar belum mengenal malam kelapa sawit dan semuanya belum pernah memanfaatkan malam kelapa sawit dalam proses membatik.

Kegiatan dilanjutkan dengan edukasi pengenalan malam batik kelapa sawit, praktek pemanfaatan malam untuk membatik, uji kualitas malam, diskusi atau FGD tentang kendala yang dihadapi saat menggunakan malam, dan kegiatan pendampingan.

BACA JUGA: BRIN Kembangkan Teknologi Gula Semut dari Sorgum, Dorong Alternatif Gula Lokal

Hasil uji coba menunjukkan respons positif. Para pengrajin menilai malam berbasis sawit memiliki kualitas lebih baik dibandingkan malam konvensional.

Ketua paguyuban, Iwan Setiawan, menyebutkan bahwa malam sawit lebih cepat meleleh, menghasilkan asap lebih sedikit, dan tidak berbau menyengat. Selain itu, proses pencantingan menjadi lebih mudah karena malam tidak lengket, sehingga meningkatkan efisiensi kerja.

“Hasil pengujian kualitas malam kelapa sawit menunjukkan kualitas yang lebih baik daripada malam yang biasa kami pakai. Malam kelapa sawit lebih cepat meleleh, asap yang ditimbulkan lebih sedikit, dan aromanya tidak menyengat. Pada saat dicantingkan ke kain juga lebih mudah dan tidak lengket sehingga membuat pekerjaan lebih efisien” ujar Iwan.

BACA JUGA: Mentan Amran Dukung Pakan Probiotik IPB, Siap Diadopsi Jika Terbukti Efektif

Hasil batikan dari malam kelapa sawit juga tidak mudah retak sehingga fungsi utama malam sebagai perintang warna dapat berfungsi dengan baik. Kain yang terintangi oleh malam putih bersih dan tidak ada sisa malam setelah dilorod. Hasil pewarnaan juga baik.

Melalui kegiatan pengabdian ini, INSTIPER mengajak pengrajin batik Kampung Tamansari untuk melestarikan dan menghasilkan produk batik yang berkelanjutan dengan memanfaatkan bahan yang ramah lingkungan seperti malam kelapa sawit. Stearin yang berasal dari turunan minyak kelapa sawit dapat menjadi substitusi paraffin karena bersifat biodegradable, dapat diperbarui, dan memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih rendah.

Kegiatan ini diharapkan dapat belanjut dan terbuka kolaborasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendukung produksi batik yang berkelanjutan di Kampung Batik Tamansari.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN dan Bursa Malaysia Melemah Pada Selasa (14/4)

“Kami tertarik untuk beralih ke malam batik kelapa sawit karena lebih ramah lingkungan. Kami juga berharap kerjasama dengan INSTIPER atau pihak-pihak terkait dapat berlanjut. Kami terbuka jika ada pihak seperti perusahaan kelapa sawit mau berkolaborasi dengan kami untuk mewujudkan eco-batik lestari yang sesuai dengan judul kegiatan pengabdian ini”, Pungkas Iwan. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP