B50 Resmi Diluncurkan, Pemerintah Perkuat Kedaulatan Energi Berbasis Biodiesel Sawit

B50 Resmi Diluncurkan, Pemerintah Perkuat Kedaulatan Energi Berbasis Biodiesel Sawit
Agricom.id

10 July 2026 , 14:36 WIB

Dok. ESDM/Peluncuran B50 dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026), 

AGRICOM, JAKARTA – Pemerintah resmi meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai langkah lanjutan dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional melalui pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis minyak sawit. Kebijakan ini sekaligus menjadi upaya meningkatkan nilai tambah komoditas domestik serta mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak.

Peluncuran B50 dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026), didampingi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

BACA JUGA: Tender KPBN Inacom 9 Juli 2026; Harga CPO Naik ke Rp15.600/Kg

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa implementasi B50 bukan sekadar menaikkan kadar campuran biodiesel dalam solar, tetapi merupakan tonggak penting dalam transformasi sektor energi Indonesia.

"Peluncuran Program Mandatori B50 bukan hanya peluncuran sebuah kebijakan, tetapi menjadi langkah nyata Indonesia dalam memperkuat kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan energi nasional," ujar Bahlil, dikutip Agricom.id dari laman Kementerian ESDM, Jumat (10/7).

BACA JUGA: Harga Karet SGX-Sicom Naik Tipis ke Rp39.096/Kg, Bertahan di Atas Rp39 Ribu pada Akhir Pekan

Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan sebagai produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia. Karena itu, pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel harus terus dioptimalkan agar memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi negara sekaligus memperkuat bauran energi nasional.

"B50 merupakan bagian dari transformasi energi yang mengoptimalkan potensi sumber daya Indonesia untuk mendukung ketahanan energi dan pembangunan ekonomi," tambahnya.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Stabil, Ditopang Dalian dan Minyak Mentah

Penghematan Devisa Meningkat

Kementerian ESDM memperkirakan implementasi B50 akan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dibandingkan program B40. Penghematan devisa diproyeksikan meningkat dari sekitar Rp133,3 triliun pada B40 menjadi Rp170 triliun setelah penerapan B50.

Selain itu, nilai tambah industri sawit diperkirakan naik dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun. Program ini juga diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja di berbagai sektor yang terkait dengan rantai pasok biodiesel.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Optimalkan Aset Perkebunan Negara, Bukukan Surplus Operasional Rp2,86 Triliun

Untuk memenuhi kebutuhan B50, konsumsi biodiesel diperkirakan mencapai 16,7–18 juta kiloliter, dengan kebutuhan bahan baku sekitar 15,2–16,3 juta ton CPO.

Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon dioksida hingga 44,46 juta ton, lebih tinggi dibandingkan pengurangan emisi pada implementasi B40 yang mencapai 39,66 juta ton.

BACA JUGA: Presiden Prabowo Terima Kunjungan PM Modi, Menteri ESDM Sebut Ada Minat Investasi Migas

Lulus Uji Berbagai Sektor

Bahlil memastikan kesiapan implementasi B50 telah melalui berbagai pengujian teknis. Uji coba dilakukan pada kendaraan bermotor, alat berat pertambangan, alat dan mesin pertanian, kereta api, kapal, hingga pembangkit listrik.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa bahan bakar B50 telah memenuhi spesifikasi teknis pemerintah serta standar yang dipersyaratkan oleh produsen kendaraan, sehingga dinilai layak digunakan di berbagai sektor transportasi maupun industri.

Uji implementasi juga telah dilakukan di sejumlah lokasi strategis, antara lain Kutai Timur, Semarang, Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, Kapal Geomarin ESDM di Cirebon, hingga Instalasi Surabaya milik PT Pertamina Patra Niaga.

BACA JUGA: Agrinas Palma Nusantara Digitalisasi Pengadaan Lewat IPS, UMKM Lokal Dapat Akses Lebih Luas ke Rantai Pasok

Bagian dari Hilirisasi Energi

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kekayaan sumber daya alam Indonesia harus diolah di dalam negeri agar menghasilkan nilai tambah bagi bangsa.

"Kekayaan alam Indonesia tidak boleh lagi mengalir keluar tanpa memberikan nilai tambah bagi bangsa sendiri. Kita harus mengolahnya, menguasai teknologinya, membangun industrinya, dan menjadikannya sumber kedaulatan energi," tegas Presiden.

Program biodiesel nasional sendiri telah berkembang secara bertahap sejak 2008, dimulai dari implementasi B2,5, kemudian meningkat menjadi B10 (2013), B15 (2015), B20 (2018), B30 (2020), B35 (2023), B40 (2025), hingga kini memasuki era B50.

Pemerintah menilai implementasi B50 menjadi langkah strategis untuk memperkuat fondasi ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan daya saing industri dalam negeri, memperbesar nilai tambah komoditas sawit, meningkatkan kesejahteraan petani, menciptakan lapangan kerja, mengurangi emisi gas rumah kaca, dan menekan impor bahan bakar minyak. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP