Harga CPO Malaysia Melemah Tertekan Pasar Minyak Nabati Global


AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali bergerak di zona negatif pada perdagangan Rabu (23/7/2026). Pelemahan terjadi baik di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) maupun pada tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN), seiring tekanan dari melemahnya harga minyak nabati pesaing di pasar global.

Mengacu pada perdagangan awal di Bursa Malaysia, kontrak berjangka CPO acuan Oktober 2026 turun RM6 per ton atau sekitar 0,13% menjadi RM4.604 per ton. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah kontrak sawit juga melemah pada sesi perdagangan sebelumnya.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia dan KPBN Kompak Melemah, Tertekan Minyak Nabati Pesaing

Sentimen utama yang membebani pasar berasal dari koreksi harga minyak nabati di China dan Amerika Serikat. Di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak kedelai (soyoil) yang paling aktif turun 1,1%, sementara kontrak minyak sawit melemah 0,51%. Di Chicago Board of Trade (CBOT), kontrak minyak kedelai juga terkoreksi 0,47%, sehingga mengurangi daya tarik minyak sawit di pasar internasional.

Di pasar domestik, hasil tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga menunjukkan pelemahan. Berdasarkan data yang diperoleh Agricom.id, harga penawaran tertinggi CPO pada perdagangan Rabu (22/7/2026) tercatat withdraw (WD) di level Rp15.511/kg.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Turun ke Rp15.675/Kg, Bursa Malaysia Ikut Melemah

Angka tersebut lebih rendah Rp164/kg atau sekitar 1,05% dibandingkan perdagangan Selasa (21/7/2026) yang mencapai Rp15.675/kg, mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar minyak sawit domestik.

Meski demikian, prospek harga CPO dalam jangka pendek dinilai masih relatif stabil. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO Malaysia selama Agustus 2026 akan bergerak di kisaran RM4.400–RM4.650 per ton, didukung oleh keseimbangan antara pasokan dan permintaan global.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun 2,78 Persen, BK Ditetapkan USD 148 per Ton

Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan produksi di negara-negara produsen utama, dinamika ekspor, serta pergerakan harga minyak nabati pesaing yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu arah harga CPO dalam beberapa pekan mendatang. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP