Tiga Negara Produsen Sawit Dunia Perkuat Kolaborasi, MoU IMT-GT Siap Ditandatangani

Tiga Negara Produsen Sawit Dunia Perkuat Kolaborasi, MoU IMT-GT Siap Ditandatangani
Agricom.id

24 July 2026 , 12:51 WIB

Dok. Kementan/Delegasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand menyepakati substansi MoU Palm Oil Cooperation dalam pertemuan IMT-GT di Medan sebagai langkah memperkuat kolaborasi industri sawit berkelanjutan, peningkatan produktivitas, dan pemberdayaan pekebun.

AGRICOM, MEDAN – Indonesia, Malaysia, dan Thailand semakin memperkuat kolaborasi dalam pengembangan industri kelapa sawit berkelanjutan melalui The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation (POC) Meeting, yang menjadi bagian dari rangkaian The 19th Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting di Medan, Sumatera Utara.

Pertemuan tersebut menjadi forum strategis bagi tiga negara produsen utama minyak sawit dunia untuk menyelaraskan langkah menghadapi berbagai tantangan industri, mulai dari peningkatan produktivitas, hilirisasi, keberlanjutan, pemberdayaan pekebun, hingga memperkuat daya saing dan akses pasar global.

Sebagai penghasil sekitar 87 persen produksi minyak sawit dunia, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memegang peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan global. Karena itu, penguatan kerja sama melalui kerangka IMT-GT dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya tuntutan terhadap praktik produksi yang berkelanjutan serta dinamika perdagangan internasional.

BACA JUGA: PERISAI 2026: Dirjenbun Dorong Percepatan PSR, Optimalkan Bantuan Sarpras, dan Perkuat Manajemen Perkebunan Sawit

Pertemuan dibuka oleh Chairman PIT Palm Oil Cooperation, Dato’ Razali bin Mohamad. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Hendratmojo Bagus Hudoro, sementara Malaysia diwakili Norhayati binti Md. Husin, dan Thailand dipimpin Ms. Hirunya Srasom.

Dalam sambutannya, Hendratmojo Bagus Hudoro yang juga menjabat sebagai Plt. Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan menegaskan bahwa kerja sama regional perlu terus diperkuat untuk menjawab tantangan perubahan iklim, tuntutan keberlanjutan, serta perkembangan regulasi perdagangan global.

Menurutnya, kolaborasi IMT-GT harus difokuskan pada peningkatan produktivitas perkebunan, pengembangan industri hilir, pemberdayaan pekebun rakyat, pemanfaatan inovasi teknologi, serta harmonisasi berbagai kebijakan yang mendukung pembangunan industri sawit berkelanjutan.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik 1,86% ke Rp15.800/Kg, Bursa Malaysia Rebound

Salah satu hasil terpenting dalam pertemuan tersebut adalah tercapainya kesepakatan seluruh negara anggota terhadap substansi Memorandum of Understanding (MoU) on Palm Oil Cooperation under IMT-GT. Dokumen tersebut akan menjadi dasar kerja sama jangka panjang di berbagai bidang strategis.

Ruang lingkup kerja sama dalam MoU mencakup peningkatan produktivitas, pengembangan industri hilir, penguatan sistem ketertelusuran (traceability), penerapan praktik budidaya berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, hingga pertukaran informasi dan pengalaman di antara ketiga negara.

Para delegasi juga mengusulkan agar penandatanganan MoU dilakukan pada The 32nd IMT-GT Ministerial Meeting yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Penandatanganan di tingkat menteri diharapkan menjadi bentuk komitmen politik yang kuat dalam memperkuat kemitraan strategis sektor kelapa sawit kawasan.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Rebound Didukung Penguatan Minyak Nabati Global

Selain menyepakati substansi MoU, forum juga mengadopsi Terms of Reference (ToR) PIT Palm Oil Cooperation sebagai pedoman pelaksanaan program kerja ke depan. Dokumen tersebut akan menjadi acuan dalam koordinasi, implementasi program, serta pembagian peran masing-masing negara anggota.

Dalam kesempatan yang sama, para peserta memberikan apresiasi atas keberhasilan penyelenggaraan Webinar on Oil Palm Smallholder Empowerment pada Juni 2026 yang menjadi sarana berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam meningkatkan kapasitas pekebun kelapa sawit.

Perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Normansyah Syahrudin, berharap berbagai rekomendasi yang dihasilkan dari webinar tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi program konkret yang mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun. Atas keberhasilan kegiatan tersebut, PIT Palm Oil Cooperation juga mengusulkan agar webinar serupa kembali masuk dalam agenda kerja tahun 2027.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Juli 2026 Turun 2,78 Persen, BK Ditetapkan USD 148 per Ton

Menutup pertemuan, Malaysia menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PIT Palm Oil Cooperation berikutnya. Disepakati pula bahwa The 5th PIT POC Meeting akan dilaksanakan secara virtual, sedangkan The 6th PIT POC Meeting akan digelar secara tatap muka dan diselenggarakan bersamaan dengan pertemuan WGAA.

Melalui berbagai kesepakatan tersebut, Indonesia, Malaysia, dan Thailand kembali menegaskan komitmennya untuk membangun industri kelapa sawit yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan kompetitif. Sinergi ketiga negara diharapkan mampu memperkuat posisi kawasan sebagai pusat produksi minyak sawit dunia sekaligus memberikan manfaat yang lebih besar bagi pekebun, pelaku industri, dan perekonomian regional. (A3)

Sumber: Direktorat Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP